Saturday, October 24, 2015

[FF Terjemahan] The Kidnapping (Oneshoot)

The Kidnapping

Penulis : Cikbella

Karakter : Jung Yonghwa, Park Shinhye, Kang Jin


---oOo---

Deskripsi

Seorang ibu muda yang bekerja sebagai dokter spesialis di Rumah Sakit terkenal suatu hari mendapat telepon anaknya diculik. Rekan kerjanya yang kebetulan memiliki perasaan padanya muncul untuk membantu. Apakah mereka akan menemukan anaknya kembali? Apa yang akan terjadi pada mereka?

Pendahuluan

"Asisten rumah tangga Anda datang untuk menjemput Kang Jin lebih dulu Nona Park."
"Apa? Asisten rumah tangga? "
Shinhye memegang kepalanya mencoba untuk menenangkan diri.
"Saya tidak punya asisten rumah tangga."
Dia berhasil mengatakannya sebelum ia terjatuh ke lantai.

---oOo---

"Asisten rumah tangga Anda datang untuk menjemput Kang Jin lebih dulu Nona Park."
"Apa? Asisten rumah tangga? "
Shinhye memegang kepalanya mencoba untuk menenangkan diri.
"Ya, dia sangat mirip dengan Anda. Saya pikir dia kakak Anda."
"Saya tidak punya asisten rumah tangga."
Dia berhasil mengatakannya sebelum ia terjatuh ke lantai.

"Shinhye, Shinhye."
Yoonsoo meraih telepon dari tangan Shinhye dan meletakkan di telinganya tapi dia tidak mendengar apa-apa selain suara beep.
"Katakan apa yang terjadi."
Dia bertanya pada Shinhye dengan cemas.
"Kang Jin telah diculik."
"Diculik?"
Yoonsoo terkejut sambil menutup mulutnya.
Yoonsoo berlari mengambil air dan menyiramkan pada wajah Shinhye.
"Shinhye ah."
Shinhye kembali sadar setelah beberapa saat dan mulai melepas mantelnya.
"Aku tidak bisa menghadiri pertemuan Yoonsoo ah. Aku harus mencari anakku. "

Shinhye berlari keluar dari kamar kecil dan berjalan secepat yang dia bisa keluar dari Rumah Sakit. Dia gemetar saat menstarter mobilnya.
"Aku akan mengemudi."
Terengah-engah, Yonghwa, rekan kerjanya datang di saat yang sangat tepat.
Shinhye pindah ke kursi penumpang dan membiarkan Yonghwa mengemudikan mobilnya.
"Anakku."
"Aku tahu. Tenangkan dirimu. Kita akan ke kantor polisi untuk membuat laporan dulu. Kuatlah Shinhye. Tidak ada yang akan terjadi pada Kang Jin. "
"Ani Yonghwa, pergi ke penitipan anakku dulu. Aku perlu bicara dengan pengasuhnya. "
"Deh."
Shinhye mengeratkan kedua tangannya dan menggigit bibirnya agar tubuhnya berhenti gemetar. Shinhye membayangkan anaknya menangis mencarinya saat Kang Jin berada di tangan penculik.
"Oh Tuhan."
Bisiknya sambil menyeka air matanya.
"Dia akan baik-baik."
Ucap Yonghwa sambil melirik Shinhye.
"Aku senang aku menemui Yoonsoo dulu. Bagaimana kamu bisa melakukan semua ini sendiri Shinhye? "
Shinhye menggeleng.
"Aku takut. Aku tidak bisa berpikir jernih. "
Yonghwa mendesah.

Shinhye orang yang keras kepala. Dia tidak ingin orang lain bersimpati padanya dalam kondisi apapun.
Yonghwa tahu sejak mereka magang bersama.
Mereka bertemu enam tahun yang lalu, saat pertama kalinya ia jatuh cinta pada seseorang tapi ternyata dia sudah menjadi istri orang.
Mereka terpisah setelah menyelesaikan magang mereka; Yonghwa melayani orang miskin sementara Shinhye berusaha keras menjadi dokter spesialis di sini di Rumah Sakit ini.
Shinhye seorang ibu tunggal saat mereka bertemu lagi, hal yang membuat Yonghwa sangat terkejut.
Shinhye seorang ibu muda dari seorang anak kecil yang lucu, yang beranjak 3 tahun pada bulan lalu.
Shinhye hidup seorang diri setelah orang tuanya tidak mengakuinya saat dia menikah dengan almarhum suaminya.
Suaminya meninggal dalam kecelakaan bersama kekasih gelapnya yang ternyata sepupu Shinhye, 2 tahun yang lalu.
Shinhye mengalami banyak penderitaan dalam hidupnya; Yonghwa tahu itu karena ia diam-diam telah menguntit hidup Shinhye saat mereka bertemu lagi.
Tapi meskipun semua sejarah kelam dalam hidup Shinhye, dia adalah seorang dokter spesialis kandungan yang sangat baik dalam pekerjaannya.

Yonghwa berjalan keluar dari mobil dan segera membantu Shinhye keluar ketika mereka telah sampai di tempat penitipan anak.
Shinhye menemui pengasuh anaknya dan meminta salinan CCTV.
Shinhye segera mendapatkannya dan Yonghwa membawanya ke kantor polisi.
"Kita akan menonton rekaman ini sekarang; Lihat baik-baik jika Anda tahu siapa orang itu."
Shinhye mengangguk.
"Itu Eun Hye unni."
"Sepupumu?"
Bibir Shinhye bergetar ketakutan.
"Yonghwa, bagaimana jika dia datang untuk membalas dendamnya padaku dengan Kang Jin? Apa yang aku lakukan?"
"Tenang Shinhye. Pak, apa yang harus kita lakukan sekarang? "
"Apakah Anda menerima telepon Nona Park?"
Shinhye menggeleng.
"Dia belum menelepon saya. Tapi dia memberikan surat pada pengasuh anak saya. "
"Apa yang dia tulis?"
Shinhye menggeleng.
"Saya tidak sanggup untuk membacanya."
Yonghwa menggeledah tasnya dan menemukan surat itu.
"Ini dia Pak."
Ucap Yonghwa sambil memberikannya ke polisi.
"Maafkan saya Nyonya. Ini terdengar seperti dia akan membalas dendam pada Anda. Anda dapat mengatakan pada saya tentang apa yang terjadi di antara kalian berdua? "
Shinhye tidak menjawab yang membuat Yonghwa berbicara polisi dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan Shinhye.
"Dia kekasih gelap suami Shinhye."
"Bagaimana kamu tahu?"
Shinhye bertanya sambil melebarkan matanya.
Yonghwa mendesah.
"Saya akan memberikan rincian lengkap Pak."
"Ok."
Polisi mulai mengetik di komputer, sementara Shinhye mulai menangis.
"Dia tahu tentang hidupku. Hidupku yang hancur. "
Gumam Shinhye sambil mencengkeram bajunya.

---oOo---

Shinhye sedang duduk di salah satu kursi di kantor polisi saat Yonghwa datang dengan secangkir kopi panas.
"Minumlah."
Ucap Yonghwa sambil ia menyerahkan cangkir kopi ke tangan Shinhye.
Shinhye menyeka air matanya.
"Gomawo."
Shinhye menyeruput kopinya dan mulai menangis lagi.
"Kamu tahu segalanya."
Ucap Shinhye sambil ia menatap kopi di tangannya.
Yonghwa mengangguk.
"Ya."
"Bagaimana? Aku sudah merahasiakannya agar tidak ada orang yang tahu. "
"Kamu harus membaginya dengan seseorang Shin."
"Kenapa kamu?"
"Karena aku mencintaimu."
"Aku sudah menikah."
"Sekarang kamu tidak menikah."
"Aku seorang ibu."
"Aku bisa menjadi ayah."
"Yonghwa."
Shinhye memanggil Yonghwa dengan suara pelan, memohon pada Yonghwa agar memahaminya.
"Aku tahu kamu ingin terlihat sebagai wanita yang kuat Shinhye. Tapi, kamu membutuhkan seseorang untuk menjagamu. "
"Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Kamu tidak bisa."
"Aku bisa Yonghwa. Aku bisa."
Ucap Shinhye sambil menyeka air matanya yang mengalir.
"Shinhye."
Yonghwa mendesah.
"Aku akan memastikan kamu memeluk Kang Jin besok. Aku akan melakukan yang terbaik agar hal itu terjadi. Aku harap kamu akan mengerti kalau perasaanku tulus untukmu. Sudah enam tahun Shin, dan tidak ada yang menggantikanmu dalam hatiku. "
Yonghwa bangkit dari duduknya dan mengambil kopi yang sudah dingin dari tangan Shinhye.
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Aku tidak mau pulang. Aku mau tetap di sini; Aku ingin menunggu anakku di sini. "
"Tunggu dia di rumah Shin. Dan tolong, dengarkan aku sekali saja. "
Shinhye melihat wajah Yonghwa yang penuh keyakinan dan mendesah. Shinhye berdiri dan mengikuti Yonghwa ke mobilnya dan membiarkan Yonghwa mengantarnya pulang.

---oOo---

Shinhye bangun ketika telepon berdering. Ia melihat sekeliling. Ia berada di rumahnya, di ruang tamu, masih mengenakan pakaiannya. Ia bahkan tidak tahu bagaimana ia bisa tertidur.
Shinhye mendapat telepon dari sepupunya tadi malam ketika dia sedang menunggu panggilan dari polisi atau Yonghwa.
Kang Jin menangis.
Eunhye tertawa setelah mengacaukan hari-nya.
"Aku akan memburumu Shinhye, kamu menghancurkan hidupku."
Air mata kebencian turun dari mata Shinhye saat ia ingat hari dimana ia melihat sepupu dan suaminya berciuman di mobil terbuka miliknya.
"Kamulah orang yang merusak hidupku Eun Hye unni."
Ucap Shinhye sambil ia mengangkat teleponnya yang berdering.
Shinhye menjawab telepon dengan jantung yang berdebar.
"Nyonya Park, kami menemukan Kang Jin."
Shinhye melebarkan matanya, ia tersenyum.

Shinhye berlari cepat di ruang tamu, terburu-buru mengenakan sepatunya dan berlari ke mobilnya yang ditinggalkan Yonghwa di garasi. Dia mengemudi dengan cepat ke kantor polisi dan menemui polisi yang bertemu dengannya dan Yonghwa kemarin.
"Dimana anak saya?"
"Anda sudah di sini."
Polisi itu tersenyum.
"Dia di ruangan itu, dengan ayahnya."
"Ayah?"
Shinhye berjalan perlahan ke ruang yang ditunjuk oleh polisi. Jantungnya berdetak cepat saat polisi mengatakan kalau Kang Jin dengan ayahnya. Siapa dia?

Shinhye memutar kenop pintu dan membukanya dan ia mendesah lega ketika ia melihat Kang Jin tidur dalam dekapan Yonghwa.
"Yonghwa."
Yonghwa tersenyum pada Shinhye.
"Aku sudah bilang kalau kamu akan memeluknya hari ini."
Shinhye menangis. Dia menangis hatinya terharu dengan ucapan Yonghwa.
"Gomawo Yonghwa."
Ucap Shinhye disela isak tangisnya.
Yonghwa berdiri dan berjalan ke arah Shinhye.
Shinhye mengambil Kang Jin dari Yonghwa dan memeluk anaknya dengan penuh kerinduan.
"Bagaimana bisa?"
Shinhye bertanya pada Yonghwa saat ia memeluk anaknya yang tidur.
"Aku berbicara dengan Eunhye, dan dia menyerahkan Kang Jin kepadaku."
"Kamu pergi sendiri?"
"Ani, aku pergi bersama beberapa polisi."
"Apa yang dia inginkan?"
"Kamu menderita."
Shinhye menangis lagi.
"Aku tidak tahu dia menyukai suamiku. Kalau saja aku tahu. "
"Kamu akan menyerahkan suamimu padanya?"
Shinhye mengangguk.
"Shinhye."
"Aku mencintainya Yonghwa. Dia satu-satunya panutanku."
"Dia bukan orang yang baik Shinhye."
"Dia menjadi seperti itu karena aku."
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri."
Ujar Yonghwa seraya ia menatap Shinhye dengan cinta.
"Beginilah aku akan bersikap sekarang dan selamanya."
"Kamu punya anak yang harus dibesarkan Shinhye."
"Aku akan membesarkan dia dengan baik Yonghwa. Terima kasih sudah membantuku. Terima kasih membawa Kang Jin kembali kepadaku. Aku akan mengingatnya sampai napas terakhirku. "
Shinhye menuju ke pintu tapi Yonghwa meraih pergelangan tangannya.
"Tentang kemarin."
Yonghwa berhenti sejenak dan mendesah.
"Pikirkan tentang hal itu."
Shinhye memutar pergelangan tangannya sehingga Yonghwa melepaskannya dengan cepat.
"Aku bahagia hidup sendiri. Kamu pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik Yonghwa. Hidupku sudah berantakan. "
"Aku tidak akan menikah dengan siapapun jika bukan dirimu. Aku akan menjadi bujangan dan terus muncul dihadapanmu agar membuatmu merasa bersalah. "
"Yonghwa."
"Pikirkan tentang hal itu Shinhye."
Yonghwa membelai rambut halus Kang Jin rambut dan menciumnya.
"Aku akan menjadi appa yang hebat untuknya."

--- Selesai ---

Epilog

"Kang Jin ah."
"Deh Omma."
Shinhye tersenyum pada anaknya yang sedang menonton Pororo.
"Mari kita pergi ke sekolah neh."
Anak kecil itu menganggukkan kepala sambil memakai tasnya.
"Jangan pergi dengan orang lain neh. Tunggu sampai Omma menjemputmu. Arasseo? "
"Deh."
Shinhye mencium pipi Kang Jin saat ia mengantar anaknya di depan tempat penitipan anak.
Shinhye melihat anaknya lari ke dalam gedung sebelum ia mencari pengasuh anaknya.
"Tidak akan ada orang lain yang menjemput Kang Jin selain saya. Saya mohon pada Anda, jangan biarkan dia pergi dengan orang lain. "
"Mohon maaf Nona Park soal penculikan itu."
"Okelah. Masalahnya sudah diselesaikan tapi saya ingin Anda lebih berhati-hati saat ini. "
"Kami akan menjaganya."
"Kamsahamnida."
Shinhye membungkuk pada wanita tua itu dan berjalan ke mobilnya.
Shinhye menghela napas dalam-dalam sebelum ia menginjak pedal gas.

---oOo---

"Bagaimana Kang Jin?"
"Dia baik-baik saja Yoonsoo ah. Aku membawanya ke Dokter Anak kemarin dan dia normal, tidak ada trauma atau sesuatu yang bermasalah. "
"Senang dia baik-baik saja. Bagaimana penculiknya? "
"Aku tidak membuat tuntutan apapun padanya."
"Shin ah."
"Aku tidak bisa."
Yoonsoo mendesah.
"Apa yang Yonghwa katakan?"
"Dia tidak mengatakan apa-apa."
"Oke, aku ada jadwal operasi. Aku pergi dulu. "
"Deh Yoonsoo."
Shinhye duduk di kursinya dan menyalakan komputer-nya.

"Aku mencintaimu."
Pengakuan Yonghwa tiga hari yang lalu muncul lagi di pikirannya.
Shinhye mendesah.
"Kenapa kamu menyiksaku seperti ini? Aku hanya ingin hidup bahagia dengan anakku. Aku lelah jatuh cinta. Aku lelah."
Shinhye menutup wajahnya dengan telapak tangan saat dia ingat pertemuan kedua dengan Yonghwa dua bulan setelah kematian suaminya. Yonghwa menjadi teman terbaiknya. Yonghwa bersikap seperti layaknya seorang pria memperlakukan seorang wanita. Yonghwa adalah pria sempurna. Yonghwa sangat berbeda dengan mantan suaminya.
Shinhye tersentuh karena kebaikan Yonghwa, Shinhye mengalaminya tahun lalu, namun ketika dia berjalan pulang menemui anaknya, dia ingat bagaimana penderitaan hidupnya. Dia tidak bisa jatuh cinta lagi. Dia tidak bisa.

Shinhye menikah dengan suaminya ketika dia masih menjadi mahasiswa kedokteran.
Suaminya telah mulai bekerja waktu itu.
Suaminya adalah teman baik sepupunya, Eun Hye.
Mereka segera menikah tak lama setelah mereka berkencan.
Mereka begitu saling mencintai.
Tapi ada Eun Hye. Shinhye bahkan tidak sadar tentang perasaan Eun Hye pada suaminya sampai suatu hari dia melihat mereka berciuman.
Suaminya mengakui Eun Hye adalah orang yang dicintainya, bukan Shinhye. Ia menikahi Shinhye karena Shinhye mirip seperti Eun Hye.
Shinhye benci ketika dia ingat saat mereka tidur bersama.
"Dia pasti memikirkan Unni setiap kali kami melakukannya."
Shinhye menyeka air mata di pipinya ketika Yonghwa berjalan ke dalam ruangannya dengan beberapa berkas.

Yonghwa menatap Shinhye dengan cemas saat melihat Shinhye menangis.
Yonghwa meletakkan berkas dan bergegas menghampiri Shinhye. Yonghwa menenangkan Shinhye dipelukannya sambil menepuk punggungnya perlahan-lahan, hati-hati, menunjukkan bahwa dia ada di sini untuk Shinhye.
"Shhh."
Shinhye menangis lebih hebat saat Yonghwa menenangkan dirinya.
"Dia tidak pernah mencintaiku."
Akhirnya Shinhye mengatakannya pada Yonghwa.
Yonghwa hanya mengangguk, ia tidak mengatakan apa-apa.
"Aku pikir dia mencintaiku; tapi dia hanya memikirkan Unni setiap saat. "
Shinhye cengkeraman baju Yonghwa saat ia menuangkan isi hatinya.
Mereka tetap seperti itu sampai Shinhye merasa jauh lebih baik sebelum Yonghwa melepaskan pelukannya. Yonghwa menyeka air mata di wajah Shinhye dan tersenyum.
"Jangan berpikir tentang hal-hal yang menyedihkan. Wajahmu pantasnya tersenyum. "
Shinhye mendengus saat ia meraih beberapa tisu. Shinhye menenangkan dirinya dan memasang senyum pahit di wajahnya.
"Aku akhirnya menceritakan hal-hal yang memalukan."
Yonghwa tersenyum dan membelai pipi Shinhye.
Shinhye memegang tangan Yonghwa dan menurunkannya.
"Maafkan aku."
Yonghwa merasa gugup ketika Shinhye menatap matanya.
"Jangan minta maaf padaku."
Yonghwa tersenyum.
"Aku akan memeriksa pasienku. Tolong periksa berkas ini untukku. "
Yonghwa menyerahkan berkas ke tangan Shinhye.
Yonghwa berjalan ke pintu dan berhenti sebelum ia berbalik menghadap Shinhye.
"Aku tidak akan seperti dia."
Shinhye melihat mata Yonghwa, mencoba memahami apa yang Yonghwa katakan.
"Aku hanya akan memikirkanmu, bahkan saat aku bersama orang lain. Aku sungguh-sungguh."

---oOo---

Shinhye sedang bermain dengan Kang Jin saat bel berbunyi.
Shinhye menggendong Kang Jin dan berjalan ke pintu sambil ia menggodanya.
Shinhye melebarkan matanya saat dia membuka pintu.
"Omma."
"Maaf Shinhye ya. Kami bersikap jahat padamu. "
Nyonya Park menatap Shinhye dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Omma."
Shinhye menahan air matanya saat melihat orang tuanya di depan pintu, mengatakan kalau mereka meminta maaf.
"Apa dia cucu kami?"
Shinhye mengangguk pada ayahnya. Tuan Park mengambil Kang Jin dari gendongan Shinhye dan menciumnya.
"Maafkan harabeoji dan Halmeoni neh. Kami bersikap kekanak-kanakan. "
Kang Jin mengedipkan matanya tidak memahami apa yang terjadi.
"Kamu beruntung Shinhye ya. Dia orang yang baik. "
"Dia? Siapa?"
"Dia mengatakan namanya Jung Yonghwa."
"Jung Yonghwa?
Orang tuanya mengangguk.
"Masuklah Omma, Appa."
"Deh."
Kedua orang tua itu berjalan masuk dan duduk di sofa. Mereka menolak ketika Shinhye ingin mengambilkan minum untuk mereka. Mereka ingin berbicara dengan Shinhye. Mereka merindukan Shinhye.
"Yonghwa."
Shinhye bergumam saat melihat orang tuanya dan Kang Jin bermain dengan gembira.
"Terima kasih."

---oOo---

"Apa kamu melihat Dokter Jung Yonghwa hari ini?"
"Dia tidak ada Dokter Park, Dokter Jung libur."
"Libur?"
Shinhye mengerutkan dahinya.
"Hari ini jadwal libur Dokter Jung."
Shinhye mengangguk beberapa kali.
"Berikan aku alamatnya."
Perawat itu segera memberikannya.
Shinhye menyelesaikan jadwalnya hari ini sebelum dia mengemudikan mobilnya ke rumah Yonghwa.
Shinhye tidak perlu khawatir soal Kang Jin karena dia menghabiskan waktu dengan kakek-neneknya.
Shinhye tiba di depan apartemen Yonghwa 20 menit kemudian.
Shinhye menunggu beberapa detik sebelum Yonghwa membuka pintu.
"Shinhye."
Shinhye berjalan masuk tanpa Yonghwa suruh.
"Kamu bilang kamu akan selalu muncul di depanku, membuatku merasa bersalah, tapi kenapa kamu melakukan itu Yonghwa?"
"Deh?"
Shinhye tersenyum pada Yonghwa.
"Apa yang kamu katakan pada orang tuaku sampai membuat mereka berubah pikiran setelah 7 tahun?"
"Mereka datang padamu?"
Shinhye mengangguk.
"Aku mencoba membuatmu merasa bersalah dengan hal itu."
"Apa kamu serius berpikir seperti itu Yonghwa?"
Yonghwa terkekeh dan mengangguk.
Shinhye menatap lembut pada Yonghwa.
"Kamu berhasil."
Shinhye memegang wajah Yonghwa dan memberikan ciuman di bibirnya.
"Nikahi aku Dokter Jung."
"Shinhye."
Ucap Yonghwa sambil menjauhkan dirinya dari Shinhye, menatap ke dalam matanya.
Shinhye tersenyum.
"Kamu bilang kamu bisa menjadi ayah Kang Jin."
Yonghwa tersenyum.
"Apa kamu serius?"
Shinhye mengangguk.
"Aku juga mencintaimu. Aku mencintaimu sejak tahun lalu. Aku takut untuk mengakuinya, aku bukan apa-apa dibandingkan denganmu."
"Kamu bukan bukan apa-apa. Kamu segalanya bagiku."
Yonghwa memegang wajah Shinhye dan menempelkan dahinya ke dahi Shinhye.
"Aku mencintaimu Park Shinhye, aku akan memastikan kamu merasakannya setiap hari."
Yonghwa mencium bibir Shinhye dengan manis sambil tersenyum.
"Aku akan melamar pada orang tuamu, seperti yang seorang pria harus lakukan."
Shinhye mengangguk.
"Kamu harus melakukannya. Segera."
"Aku akan melakukannya."
Yonghwa menarik Shinhye ke dalam pelukannya dan mengayunkan tubuh Shinhye.
"Akhirnya."
Yonghwa berbisik sambil tersenyum lebar.

--- Selesai ---

Kata-kata yang dicetak miring adalah bahasa Korea, memang sengaja tidak diterjemahkan agar sesuai aslinya.

Catatan admin
Tada FF terjemahan ketiga masih dengan FF dari Cikbella, semoga terjemahan kali ini lebih baik dari sebelumnya. Mohon kritik dan sarannya, juga jangan lupa komentarnya, terima kasih :)

PS. Update postingan FF di blog bisa dilihat di facebook HS Corner Shop atau di twitter Lovetheangels1

9 comments:

  1. Kata2nya udh baguss kak.. Udh pas bangett.. Wehh makin mantap terjemahanx ���� semangattt kak ����

    Paling suka kata2 'aku bisa menjadi appa' ���� yonghwa gigih bangettt ���� semoga didunia nyata dy juga gigih mengejar cinta nya ����

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih zahra 😘, muji2 ad modusnya kan hahaha #becanda
      Semoga di dunia penantiannya ga lama2 yah biar ga lumutan nunggu nikahnya

      Delete
  2. Udah pas ko alih bahasanya..dtnggu ff terjemahan lainnya..^^ semangat !!!

    ReplyDelete
  3. Bagus eon��������
    terjemahanny rapi
    enak dibaca
    ditunggu ff trans selanjutny
    semangat terusss eon��������

    Novi98

    ReplyDelete
  4. Suka ceritanya...
    Terjemahan bahasanya juga oke...

    ReplyDelete
  5. Hhhmmm bener2 cinta sejati,,, kren ff nya,, terjemahannya jg gk membingungkan,,

    ReplyDelete
  6. Hhhmmm bener2 cinta sejati,,, kren ff nya,, terjemahannya jg gk membingungkan,,

    ReplyDelete
  7. Hhhmmm bener2 cinta sejati,,, kren ff nya,, terjemahannya jg gk membingungkan,,

    ReplyDelete
  8. Critana bgus.feelna juga dpet..cm bhsa koreana aneh..mianhe hehehhe

    ReplyDelete