Saturday, October 24, 2015

[FF Indonesia] Can't Stop (Part 2)

Can't Stop (Part 2)


Author : Wangbie


Cast : Jung Yonghwa, Park Shinhye, Lee Jonghyun and the others
Genre : Romance

Sumber : 2a 2b 2c 2d

~Don't Copy paste Without permission.!!!~

Happy reading..(^_^)

---oOo---

Shinhye berjalan malas menuju teras rumahnya setelah memasukkan motor kesayangannya ke dalam garasi. Dilepasnya dengan sedikit paksa jaket yang melekat di tubuhnya dan melemparkannya kesal ke atas meja lalu mendudukkan dirinya dengan gelisah di atas kursi kayu buatan orang Indonesia asli yang sengaja dipesannya secara online. Dadanya masih naik turun menahan gejolak yang dirasakannya beberapa jam lalu, yang entah bagaimana caranya membuatnya tidak tenang. Gejolak yang baru dirasakannya saat memeluk seseorang yang selama ini menjadi idolanya. Bahkan nafasnya masih memburu cepat, mengingat kejadian salah memeluk orang itu sudah berlalu sejak 5 jam yang lalu. Bahkan tanpa disadarinya, detak jantungnya terasa semakin kencang berdetak saat ia mengingat bagaimana sorot pertama yang diberikan padanya oleh seorang Jung Yonghwa. Tangannya bergerak meraba dengan cermat setiap inci jantungnya, meyakinkan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi telah dengan mudah memeluk seorang namja yang bahkan belum sekalipun berpegangan tangan dengan yeoja manapun, kecuali ibu dan saudara perempuannya. Ya.. Seperti itulah kata surat kabar atau majalah yang dibacanya beberapa tahun silam. Tapi bagaimana jika selama 3 tahun belakangan ini ada yeoja yang sudah berhasil mendapatkan pelukan pertama Yonghwa?. Tangan Shinhye mengepal keras saat fikiran delusionalnya mulai meracuni otaknya. Ia tidak suka, sangat tidak suka dengan pemikirannya tentang pelukan Yonghwa dengan orang lain. Entahlah, dia juga belum tahu kenapa. Padahal selama ini dia akan baik-baik saja kalau melihat kekasihnya berpose mesra atau dekat dengan yeoja lain yang bahkan sama sekali tidak dikenalnya.

Shinhye berdiri dari tempat duduknya dan menutup mulutnya tak percaya membayangkan dan menebak-nebak alasan apa yang tepat untuk setiap kejadian yang dialaminya.

"Omo!! Tidak!! Tidak mungkin aku cemburu! Tidak.. Tidak... itu sangat tidak mungkin. Bagaimana mungkin aku cemburu pada orang yang selama ini aku idolakan. Apa batas idola yang aku rasakan sudah melebihi batas. Oh.. Tidakk..." ucapnya pada diri sendiri. Shinhye masih sibuk dengan pemikirannya sendiri saat sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan rumahnya, dan seorang namja yang masih mengenakan baju yang sama dengan yang digunakannya beberapa jam lalu memasuki halaman rumahnya menggunakan kursi rodanya. Tatapan namja yang mengisyaratkan sebuah kerinduan yang lama dipendamnya selama bertahun-tahun.

Namja itu berhenti tepat di depan Shinhye yang masih betah dengan posisinya semula tanpa menyadari kehadirannya sedikitpun. Sedikit demi sedikit namja itu menyunggingkan senyum manisnya melihat berbagai macam ekspresi yang keluar dari wajah cantik Shinhye. Sebentar tersenyum riang lalu menggelengkan kepalanya cepat lalu sedetik kemudian diam dan berfikir. Senyum yang awalnya hanya samar terlihat itu kini berubah menjadi sebuah tawa kecil yang membuat wajah tampannya semakin mempesona.

Shinhye bergerak maju tanpa sadar saat ini dan langsung terjatuh tepat di hadapan namja berkursi roda yang kini menahan tubuhnya agar tidak terbentur. Seketika itu juga jantung Shinhye bergemuruh hebat saat matanya bertemu dengan pemilik mata coklat yang selalu memancarkan keteduhan. Mulutnya terbuka sempurna tanpa berniat menutupnya sama sekali karena syok yang dideranya saat ini.

"Gwaenchanayo..?" Tanya namja itu khawatir. Kini ia berusaha membantu gadis di depannya berdiri dengan memberi pegangan agar ia tak limbung karena posisi kakinya yang tidak tepat.

"Gwaenchanayo Shinhye ssi??? " ulangnya. Shinhye mengerjapkan kedua matanya dan membuka matanya lebar memastikan namja yang berada di depannya ini benar-benar Jung Yonghwa. Idolanya yang sekaligus menjadi orang yang entah sejak kapan mengusik fikirannya. Shinhye segera merapikan bajunya yang sedikit berantakan dan membantu Yonghwa menaiki teras rumahnya yang memang sedikit tinggi dari tanah. Yonghwa tersenyum simpul saat Shinhye mendorong kursi rodanya dan mendekatkannya pada meja di samping pintu rumahnya.

"Gwaenchanayo? "

Shinhye mengangguk kecil tanpa berani menatap wajah Yonghwa yang sudah pasti saat ini tengah menatapnya. Tiba-tiba perkataan Jonghyun di taman beberapa jam lalu menyeruak kembali, membuatnya harus menahan rasa kecewa karena sangat tidak mungkin kata-kata seperti itu akan keluar dari mulut seorang namja yang mencintai yeojanya. Namja yang bahkan sebentar lagi akan menjadi suaminya.

Yonghwa berdehem pelan karena melihat yeoja di sampingnya kembali ke dalam pikirannya sendiri. Ia kesini untuk menjelaskan maksud perkataan Jonghyun yang sebenarnya dia sendiri tidak yakin apa alasannya.

"Untuk yang tadi.. Jangan terlalu difikirkan. Pasti Jonghyun hanya bercanda, sebentar lagi kalian akan menikah bukan? Percayalah padanya. Dia hanya bercanda, dan dia berkata seperti itu hanya ingin melihat ekspresimu. Dia hanya ingin memastikan kalau kamu benar-benar mencintainya." Jelas Yonghwa panjang lebar. Lagi-lagi Shinhye hanya mengangguk pelan dan kembali membungkam mulutnya.

"Bisakah kita berteman? " tanya Yonghwa ragu. Tapi ia juga tidak mau menghilangkan keberaniannya yang saat ini tinggal 15 % itu. Lalu dengan perlahan ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Shinhye yang sekarang menatapnya bingung.

"Aku hanya ingin berteman. Jonghyun adalah teman baruku, dan kekasih Jonghyun juga temanku. Karena pasti Jonghyun sangat menyanyangimu. Aku ingin kita berteman baik."

Shinhye menatap kedua mata Yonghwa yang tampak sangat menenangkan bagi siapapun yang melihatnya. Entah darj mana ia dengan cepat tanpa keraguan membalas uluran tangan Yonghwa dan tersenyum. Yonghwa menghembuskan nafas lega saat Shinhye kini dengan perlahan memeluknya singkat lalu menatapnya lagi.

"Kita berteman.."

---oOo---

Tuan dan Nyonya Jung saling berpelukan sambil duduk di kursi dekat kolam renang mewah di rumahnya menyaksikan tawa dari putra semata wayangnya yang sudah lama tidak terlihat. Beberapa keluarga yang sengaja diundangnya ikut merasakan aura kebahagiaan yang dipancarkan Yonghwa saat ini. Mereka saling berpandangan dan tersenyum lega, karena akhirnya mereka bisa melihat semangat yang selalu membuat orang-orang di sekitar Yonghwa ikut merasakannya.

"Yeobo.. Benarkan ini bukan mimpi.. Itu Yonghwa kan yang sedang tertawa dengan teman-temannya? " tanya Nyonya Jung yang sudah tak mampu menahan air mata kebahagiaannya. Tuan Jung mengangguk mantap dan mengeratkan pelukannya sambil menitikkan air mata leganya.

"Eomma.. Appa.." panggil Yonghwa yang sudah berada di depan kedua orang tuanya dengan 2 minuman di tangannya.

"Ini.. Dari tadi Yonghwa melihat Eomma dan Appa hanya duduk di sini."

Nyonya Jung segera memeluk anaknya dan menumpahkan kerinduan yang seakan membuncah. Tuan Jung yang melihatnya segera mengambil gelas yang dibawa Yonghwa lalu ikut larut dalam pelukan hangat yang sangat dirindukannya.

"Yonghwa sayang Eomma Appa..."

---oOo---

Jonghyun sedang tertunduk lemas di bawah ranjangnya dengan sesekali meremas rambutnya frustasi. Ia mengerang pelan saat teringat kembali dengan kejadian yang menjadi mimpi buruknya selama ini.

Flashback

Jonghyun yang masih mengenakan seragam SMA-nya berlari cepat menerobos padatnya mobil-mobil yang berhenti di tengah jalan karena macet. Tas punggung yang disampirkan begitu saja di punggungnya ikut bergerak cepat saat si pemilik menambah kecepatan larinya.

"Hyung.. jebal.. Tunggu aku. Aku mohon.." lirihnya di sela-sela nafasnya yang memburu. Diliriknya jam tangan kecil yang terpasang di tangan kirinya sambil sesekali melompati pembatas jalan yang sengaja dipasang di tengah jalan. Ia tidak mengindahkan sama sekali protes dari mobil-mobil yang terpaksa harus mengerem mendadak karena ulahnya. Ia hanya fokus agar segera sampai di arena balap mobil yang tinggal 200 meter lagi dari tempatnya.

Jonghyun segera menerobos masuk membelah lautan orang-orang yang tidak mendapatkan tempat duduk. Beberapa orang mengumpatnya kasar karena mengganggu konsentrasi mereka yang sedang fokus pada 2 mobil yang kini hampir mencapai finish.

Dengan cepat ia berlari ke arah dekat garis finish dan menyeruak ke dalam barisan orang-orang yang menanti hasil akhir dari perlombaan kali ini. Langkahnya terhenti saat seseorang diantara mereka mengatakan sesuatu yang membuatnya terbakar emosi.

"Cepat tabrak dia sekarang juga.." ucap pelan seorang ahjusi berkaca mata hitam. Dan tak lama kemudian terdengar bunyi hantaman benda keras dan suara teriakan histeris dari penonton saat sebuah mobil kini terguling-guling cepat. Jonghyun segera melompati pagar dan berlari ke arah mobil yang semakin lama mengeluarkan asap hitam dari bagian belakang mobilnya. Namun seorang namja yang baru saja turun dari mobil balapnya menahan sebelah lengannya.

"Jangan dekati dia, atau kau akan kehilangan semuanya sekarang juga."

"Kenapa Hyung melakukan ini? Yonghwa Hyung tidak pernah membalas sedikitpun perbuatan Hyung yang sangat keterlaluan itu. Apa Hyung tidak merasa bersalah atas semuanya? Yonghwa Hyung bahkan rela menyerahkan kebebasannya agar Hyung bisa dengan leluasa berhura-hura." Jawab Jonghyun geram menahan emosinya melihat kakak sepupunya yang sangat tidak berperikemanusiaan.

"Ckk.. Sudahlah. Aku Kim Soohyun, tidak akan menyerahkan semua yang aku dapat pada namja yang bahkan tidak perlu bersusah payah untuk sampai di titik ini."

Jonghyun mengepalkan kedua tangannya agar tidak memukul namja arogan di depannya saat ini. Namun perkataan yang diucapkannya barusan benar-benar membuat pertahanannya hilang.

"Ckk.. Kau bahkan tidak pernah memberitahu namamu padanya. Bagaimana caramu meminta imbalan yang banyak? "

Jonghyun segera melayangkan tinjunya bertubi-tubi pada kakak sepupunya yang benar-benar tidak tahu diuntung. Beberapa petugas keamanan menghampirinya dan menariknya paksa memasuki kantor keamanan.

"Dasar namja bodoh. Kenapa kau harus selalu membantu musuhku? Tidak bisakah kau membantuku seperti kau membantunya? Yonghwa bahkan tidak tahu siapa yang selama ini selalu membantunya. Apa kau sangat ingin menjadi penggemar rahasianya? Ckk.. Dasar Lee Jonghyun pabboo!!" Ujar Soohyun lirih dan segera berdiri saat manager dan beberapa orang berlari menghampirinya.

Flashback end

"Mianhae Hyung..Mianhae aku tidak bisa menghentikan Hyung waktu itu. Andai aku datang lebih cepat, pasti Hyung tidak akan mengalami kecelakaan seperti ini.. Jeongmal mianhae hyung.."

---oOo---

Yonghwa masih betah memandangi jalanan dari jendela kamarnya. Menunggu. Ya menunggu untuk kesekian kalinya agar ia bisa melihat wajah berseri-seri dari gadis yang dicarinya selama ini. Gadis yang ternyata kekasih dari sahabat barunya dan menjadi gadis pertama yang memeluknya. Sebuah senyuman kembali tersemat dari bibirnya saat mengingat kejadian beberapa hari lalu di taman. Kejadian yang tidak diduganya sama sekali.

Yonghwa kembali menyunggingkan senyumnya saat melihat wajah cantik gadis yang ditunggunya muncul dari balik pagar besar rumahnya. Gadis itu menoleh ke arahnya. Yonghwa segera membelalakkan matanya saat gadis yang tak lain adalah Shinhye itu kini sedang melambaikan tangan ke arahnya.

"Omo.. Ige mwoya? Apa dia melihatku? Tapi bagaimana mungkin? "

Yonghwa beradu argumen dengan batinnya sendiri saat melihat senyuman Shinhye yang semakin lebar saat ia membalas tatapannya. Jantungnya yang sedari tadi sudah berdegup kencang semakin memompa dan menambah kecepatannya saat melihat Shinhye kini melambaikan kedua tangannya memberi isyarat agar ia turun. Dengan segera ia mengangguk dan segera memutar kursi rodanya dan menjalankannya cepat keluar rumah.

Shinhye yang melihat Yonghwa berbalik setelah mengangguk kecil segera duduk di depan pagar rumahnya yang memang sengaja disediakan kursi di sana. Tak butuh waktu lama, Yonghwa kini sudah berada dibelakangnya dengan senyuman maut menunjukkan gigi gingsulnya. Shinhye menoleh kebelakang dengan cepat saat merasakan seseorang memandanginya. Dan benar saja, memang ada Yonghwa di sana sedang tersenyum padanya. Senyum yang tanpa disadarinya membuatnya berpacu dalam detakan jantung.

"Kajja masuk.." ajak Yonghwa. Shinhye mengangguk dan mendorong kursi roda Yonghwa menuju taman di samping rumah mewah milik Yonghwa yang memang sengaja ditempatkan di dekat kolam renang.

"Jadi, selama ini kau tahu aku memandangimu dari sana? " tanya Yonghwa langsung sambil menunjuk jendela kamarnya yang terbuka lebar di atasnya. Shinhye mengangguk dan tersenyum malu mengakuinya. Ia memang tahu ada orang yang selalu memperhatikannya saat ia akan berangkat ke tempat kerja part timenya. Tapi ia tidak tahu kalau Yonghwa yang memandangnya. Ia tidak menyangka sama sekali hal ini akan terjadi. Berteman dengan idolanya sendiri.

"Kenapa kau hanya tersenyum? Bukankah suaramu itu sangat indah. Ayo bicaralah, aku ingin mendengarnya.." pinta Yonghwa. Shinhye yang mendengarnya sedikit terkejut mendengar perkataan Yonghwa yang seperti menggodanya. Aigoo... Sadar Park Shinhye. Dia hanya seorang yang kau idolakan.

"Bagaimana keadaanmu sekarang? Lebih baikkan kah? "

"Nah.. begitu sangat baik. Ya.. Seperti yang kau lihat nona Park. Aku baik-baik saja."

"Syukurlah. Aku senang mendengarnya. Tapi bolehkan aku bertanya sesuatu? "

"Boleh. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya. Apa kau ingat dengan ini? " tanya Yonghwa sambil mengulurkan sebuah benda bulat berwarna putih keemasan dengan sebuah permata cantik di atasnya.

Shinhye mengamati cincin yang diberikan Yonghwa dan mencoba mengingat apakah ia tahu cincin apa ini. Shinhye segera memutar memori lamanya mencari tahu apa yang sebenarnya ia sendiri belum tahu. Namun beberapa menit kemudian Shinhye menatap Yonghwa tak percaya.

"Yongie..."

---oOo---

Duukkkk!!!!

"Bodoh!!! Kenapa sampai sekarang kalian tidak berhasil juga menyelesaikan tugas yang mudah seperti itu???" Geram Soohyun pada beberapa orang suruhannya yang lagi-lagi melaporkan hal yang sama setiap ditanya. Memangnya apa susahnya menghabisi orang cacat yang tidak bisa berjalan? Apalagi dengan keadaannya yang labil, bukankah itu hal yang sangat mudah?

"Beberapa minggu ini, kami melihat adik anda berada di sana, tuan. Dan mereka tampak sangat akrab, karena kami melihat Yonghwa tertawa ringan bersama Jonghyun." Lapor salah seorang diantara mereka yang memiliki badan paling kekar diantara yang lain. Soohyun menoleh cepat dan berdiri tegak di hadapan orang yang baru saja memberikan berita terbaru, yang tentunya membuatnya sangat tidak suka. Yonghwa tidak boleh sembuh, sekalipun itu mentalnya yang memang sedikit down. Tidak boleh!

"Kau tahu kan apa yang akan terjadi pada keluargamu kalau kau tidak berhasil melakukan perintahku? " orang berjambang cukup lebat yang sedang ditatap oleh atasannya hanya mengangguk kaku. Tidak berani mengucapkan sepatah kata pun, sekalipun hanya menjawab pertanyaan itu dengan satu kalimat, 'ya'.

Soohyun tertawa keras, menghempaskan tubuhnya ke sofa di belakangnya, dan kembali menegak satu gelas penuh alkohol. Merasa puas dengan kendali yang dimilikinya sekarang. Dan juga membayangkan bagaimana puasnya dirinya saat melihat Yonghwa sudah tidak bisa membuka matanya lagi, yang berarti saingan utamanya akan hilang. Dia akan menjadi idola yang paling dielu-elukan di kancah dunia balap mobil. Karena hingga saat ini, banyak yang masih membanding-bandingkan dirinya dengan Yonghwa. Jung Yonghwa, yang masih saja mendapatkan perhatian dari banyak orang sekalipun keadaannya sudah tidak seperti dulu. Dan itu adalah hal yang paling dibencinya. Satu-satunya cara yang harus digunakannya agar menghapus nama Yonghwa dari bayang-bayangnya adalah dengan membuatnya benar-benar menghilang.

---oOo---

"Kemarikan itu, Shin.. Itu bukan apa-apa..."

"Kalau ini bukan apa-apa biarkan aku membukanya dong Yong..."

"Mwoo?? Yong? Kau berani memanggilku Yong? Ckk.. Padahal sebelumnya kau selalu memanggilku 'my prince... my prince Yonghwaa...'." Goda Yonghwa sambil mempraktekkan imajinasinya saat mendengar cerita dari Jonghyun tentang kekasihnya yang katanya sangat mengidolakan dirinya. Shinhye memicingkan matanya ketika Yonghwa yang mengekspresikan wajahnya saat menonton siaran ulang pertandingan yang diikuti dengan sangat tepat.

"Yong..."

Yonghwa menghentikan aktifitasnya saat menyadari yeoja di depannya yang sedang berjalan mendekatinya perlahan, menatapnya dengan tatapan curiga. Shinhye berdiri tepat di hadapan Yonghwa sambil berkacak pinggang saling menatap dengan namja yang sekarang diam dengan mimik wajah yang tak terbaca. Ggrreebbbb....
Shinhye membelalakkan matanya kaget ketika tanpa diduganya sama sekali, Yonghwa menyelipkan kedua tangannya ke dalam pinggangnya.

Shinhye pov

Omo!! Ige mwoya? Kenapa dengannya? Apa dia salah minum obat tadi? Aku rasa tidak, karena obatnya aku sendiri yang memeriksanya.

Kaget.
Senang.
Deg deg gan.
Merasa sangat beruntung.
Bersyukur.
Semua rasa itu bercampur menjadi satu sejak beberapa jam lalu, sejak Yonghwa mengatakan iya setelah mendengar pertanyaanku yang sejak saat itu merubah hidupku dalam seketika. Aku menemukan masa kecilku, dan dia masih mengingatku. Itu berita bagus, bukan?

Flashback

Shinhye tercekat memandang sebuah cincin masa kecilnya bersama keluarga barunya yang didesain khusus oleh Tuan Park untuknya dan Yongie. Cincin yang hanya dimilikinya dan Yongie saja di dunia. Bagaimana mungkin bisa cincin itu ada di tangan Yonghwa? Apa Yongie kecilnya kehilangan itu? Tapi kalau iya, kenapa juga Yonghwa menanyakan hal ini padanya? Apa jangan-jangan Yonghwa yang saat ini sedang tersenyum di depannya adalah Yongie-nya? Yongie masa kecilnya? Yongie yang ternyata adalah idolanya sendiri? Oh ayolah, apa di dunia ini hanya ada satu orang yang bernama, Yongie?

Shinhye menggelengkan kepalanya cepat saat imajinasinya semakin liar dengan menghubungkan satu hal ke hal lainnya. Lalu membentuk satu kesimpulan yang tetap sama dengan tebakannya yang pertama.

"Yong...ie..." lirihnya tanpa sadar.

Yonghwa tersenyum lebar saat Shinhye kembali memanggil namanya berkali-kali. Apa yang yeoja itu pikirkan? Pikirnya senang.

Shinhye tersadar dari lamunannya saat seseorang menggoyang-goyangkan lengannya sambil terus memanggil namanya.

"Kau masih ingat? " tanya Yonghwa pelan. Sejujurnya ia takut harus menanyakan hal ini pada yeoja yang baru berhasil didekatinya kemarin. Namun, ia sendiri tidak suka jika harus menunggu terlalu lama untuk itu.

"Shinjie,ah..."

"Ne??? "

Yonghwa tertawa kecil mendengar Shinhye menjawab panggilannya dengan seperti itu. Jawaban yang selalu dengan ekspresi kagetnya jika ia memanggilnya dengan kata itu. Selama mereka kecil dulu, bisa dihitung berapa kali ia memanggil Shinhye dengan nama kecilnya, bukan karena ia tahu nama aslinya, tapi karena Shinjie kecilnya tidak terbiasa dipanggil dengan halus seperti itu.

"Be...be..nar..kah...kau...Yong..ie kecilku? "

Lagi-lagi Yonghwa tersenyum mendengar yeoja di depannya yang belum sepenuhnya sadar dari kekagetannya mengatakan sesuatu yang sangat disukainya, Yongie-ku..

"Iya.. aku Yongie-mu.. Dan kamu Shinjie-ku.."

Flashback end

"Yong.. Gomawo..."

"Untuk? " tanya Yonghwa tanpa melepaskan kontak fisik dengan Shinhye, gadis yang sama dengan masa kecilnya, yang lagi-lagi membuat dunianya terasa menyenangkan.

"Masih mengingatku dan menyimpan cincin kita.."

"Aku juga berterima kasih, karena kau masih mengingat dan menyimpannya juga untukku. Aku tidak akan melupakan sedikitpun hal untukmu, dan menemukanmu adalah hal terindah saat ini.."

Yonghwa dan Shinhye saling tersenyum dalam hati mereka. Ini mungkin terlalu cepat, tapi... Apa yang terlalu cepat? Bukankah mereka sudah dekat sejak kecil? Jadi ini tidak salah bukan? Walaupun keduanya masih canggung untuk sekedar berpelukan, melepas rindu seperti ini, namun bukankah mereka juga berhak melakukannya? Sebagai seorang kakak yang memeluk adiknya. Seorang adik yang merasakan hangatnya pelukan dari kakak yang lama terpisah.

Tapi entah kenapa, ada raut kesedihan di wajah Yonghwa. Mengingat keadaan yang saat ini dialaminya, membuat dirinya sedikit lebih tersiksa. Shinhye? Entahlah, masih terlalu dini untuk menyimpulkan sesuatu.

Tok tok tok...

Shinhye melepaskan tangan Yonghwa yang masih saja melingkari pinggangnya setelah 1 menit yang lalu pintu kamarnya diketuk. Dengan cengengesan yang sedikit dibuat-buat, Yonghwa mempoutkan bibirnya kesal saat Shinhye menatapnya tajam seolah bertanya, 'apa kau tidak dengar kalau ada orang yang mencarimu? '. Dia hanya ingin lebih lama, apa itu salah?

"Oppa..." ucap Shinhye setelah membuka pintu kamar Yonghwa dengan terburu-buru. Jonghyun, tunangannya yang sekaligus teman baru Yonghwa tiba-tiba datang? Kenapa?

"Shinhye,ah.. Kau di sini juga? Oppa tadi ke rumahmu. Tapi kau tidak ada. Ponselmu mana? Oppa sangat khawatir..." jawab Jonghyun sambil bergerak memeluk calon istrinya. Melupakan di mana tempatnya sekarang dan siapa yang melihat mereka. Shinhye membalas pelukan Jonghyun pelan lalu segera melepaskannya, karena tidak mungkin mereka berpelukan lama seperti biasanya. Ini di kamar Yonghwa, bukan rumahnya.

"Oppa.."

Jonghyun tersadar dan sedikit tersentak menyadari di mana dia sekarang. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari pemilik tempat ini menatap dirinya ramah, dengan senyuman yang belum pernah dilihatnya selama ini. Otaknya berputar-putar mencari alasan rasional yang tepat untuk kejadian saat ini. Senyum Yonghwa.. dan.. Shinhye...

"Kau sudah datang? "

Shinhye mengerutkan keningnya, bingung. Melihat Yonghwa dengan ramah menyapa Jonghyun, begitu pula sebaliknya. Ada apa ini? Kenapa dirinya merasa ada sesuatu yang tidak diketahuinya? Haruskah ia bertanya?

"Jonghyun yang membantuku, dia menjadi temanku sejak 2 minggu yang lalu. Dan setiap malam ia ke sini, menemaniku." Jelas Yonghwa. Jonghyun mengangguk dan itu membuat Shinhye sedikit bingung. Teman? Belum sempat ia bertanya lebih lanjut, pintu kamar Yonghwa terbuka lagi. Kali ini pintu itu terbuka langsung dengan sedikit kasar. Dan seorang yeoja yang baru saja masuk langsung berlari ke arah Yonghwa dan memeluknya.

"Yonghwa Oppa... Gyuwon kangen..." ucap yeoja yang baru saja masuk ke dalam kamar Yonghwa tanpa permisi langsung memeluk dan menyandarkan kepalanya di bahu namja yang duduk di kursi roda tanpa bisa melakukan lebih, kecuali menahan tubuh Gyuwon dan mendorongnya pelan agar segera menjauh darinya. Namun, bukan menjauh dan melepaskan tangannya dari punggung Yonghwa, Gyuwon semakin mengeratkan pelukannya. Membuat Jonghyun dan Shinhye terpaku di tempatnya.

"Mianhae.. Seharusnya kami pergi dari sini..." ujar Shinhye cepat sambil menarik tangan Jonghyun keluar. Yonghwa berusaha lebih kuat agar yeoja yang kini memeluknya erat itu segera melepaskannya tanpa ia harus bertindak kasar padanya, tapi bukannya melepaskan tangannya, Gyuwon berusaha menjangkau bibir Yonghwa dengan bibirnya.

Pllaakkk.....

Sebuah tangan yang memerah menampar keras pipi Gyuwon, membuat si pemiliknya menatap Yonghwa tajam, tak terima dengan perlakuan yang diterimanya. Tangannya bergerak ke atas, ingin membalas tamparan yang membuat harga dirinya terluka. Tapi sebuah tangan menahannya kuat, lalu menghempaskannya kasar ke bawah hingga membuat Gyuwon merah padam dibuatnya.

"Yyaaa!!! Yeoja gila, jangan pernah melakukan hal gila seperti itu lagi atau aku akan membuatmu menyesal." Ucap Shinhye emosi. Ia tadinya akan mengambil ponselnya yang masih tertinggal di atas meja, tapi begitu ia masuk, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya langsung naik. Jonghyun segera membawa Gyuwon keluar dengan paksa sebelum terjadi pertengkaran yang pasti akan membuat keadaan rumit. Meninggalkan Yonghwa dan Shinhye yang saling memandang satu sama lain.

---oOO---

"Jangan dekati Yonghwa lagi." Ujar Jonghyun tajam saat sudah berada di halaman rumah tanpa melepaskan genggaman tangannya yang mencengkeram lengan Gyuwon erat, membuat semburat warna merah muda tersembul dari sela jari-jari Jonghyun.

"Ada apa Gyuwon, ah...?" Tanya Nyonya Jung yang baru saja turun dari mobil bersama dengan Tuan Jung.

Gyuwon  segera melepaskan tangan Jonghyun dengan kuat lalu berlari memeluk Nyonya Jung dan menangis terisak. Nyonya Jung yang belum tahu dengan kejadian sebenarnya hanya mengusap rambut Gyuwon  lembut.

"Ada apa ini? " Tuan Jung bertanya pada Jonghyun dengan sedikit bingung.

"Sebaiknya tuan bertanya pada dia. Saya permisi dulu, ada latihan sebentar lagi." Jawab Jonghyun sambil menunjuk Gyuwon dengan pandangan tidak sukanya. Tuan Jung mengangguk kecil dan mengajak istrinya dan Gyuwon masuk ke dalam rumah.

"Ada apa? " tanya Tuan Jung pelan pada Gyuwon yang masih memeluk Nyonya Jung sambil terisak.

"Yeobo..Duduk dulu.." ucap Nyonya Jung menenangkan.

"Tadi Yonghwa Oppa menamparku saat aku hanya ingin memeluknya, lalu tiba-tiba namja gila itu menyeretku keluar dan mengatakan jangan datang lagi kesini. Aku tidak salah ahjusi.. Apa salah kalau aku ingin memeluk calon suamiku sendiri? "

"Mwo? " tanya Tuan Jung kaget. Calon istri? Siapa? Dia? Yang benar saja. Bahkan sekalipun tidak pernah Yonghwa menceritakan tentang dirinya, apalagi tentang pernikahan.

"Gyuwon ...Ahjuma dan Ahjusi minta maaf, tapi pasti Yonghwa tidak mungkin melakukan hal kasar tanpa sebab, dan Jonghyun, dia namja baik, jadi pasti tidak akan melakukan sesuatu tanpa perhitungan dalam." Ucap Nyonya Jung halus. Walaupun mereka sudah tahu Gyuwon seperti apa, tapi tidak mungkin juga kan kalau mereka melakukan seperti yang dilakukan anak mereka. Tuan Jung segera meninggalkan Gyuwon yang baru saja hendak mengucapkan kalimat pembelaannya, menyerahkan masalah ini pada istrinya yang pasti bisa mengatakan hal yang tidak kasar.

"Ahjuma..."

"Gyuwon... Hentikan semuanya. Ahjuma sebenarnya tidak mau mengatakan ini, tapi setelah melihat ini, ahjuma harus mengata..."

"Jadi, ahjumma juga menentangku? Aku tidak suka ini,..." potong Gyuwon cepat dan segera meninggalkan rumah Yonghwa dengan amarah yang membuncah. Nyonya Jung hanya menghela nafasnya dalam dan berdoa semoga gadis itu diberi kesadaran atas tindakannya yang salah.

---oOo---

Shinhye dan Yonghwa masih terdiam tanpa sepatah katapun, bedanya sekarang mereka duduk berdampingan di sofa depan tv sambil menatap layar segiempat di depan mereka yang sedang menayangkan sebuah acara reality show. Sesekali mereka saling mencuri pandang sekilas dan tersenyum kaku saat tatapan mereka bertemu.

"Kenapa tadi langsung pergi? " tanya Yonghwa yang sudah menemukan kalimat pertanyaan untuk memulai percakapan. Setelah sebelumnya ia memeras otaknya kuat hanya untuk menemukan satu kalimat percakapan di tengah gemuruh suara detakan jantungnya yang kencang.

Shinhye sedikit terkejut dan tampak bingung untuk menjawabnya. Ia sendiri tak menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu. 'Aku cemburu.' Jeritnya dalam hati. Tapi tidak mungkin juga ia menjawabnya demikian. Jawabannya pasti akan membuat Yonghwa tertawa.

"A..aku..aku..aku..."

"Tidak usah dijawab tidak apa-apa. Pasti kau dan Jonghyun ada acara sendiri. Gwaenchana..." potong Yonghwa. Shinhye menatap Yonghwa sedih. Ekspresi Yonghwa terlalu dingin, tidak seperti sebelumnya yang sangat mudah ditebak. Ia tidak bisa menebak apa yang sedang difikirkan Yonghwa. Pasti sekarang namja di sampingnya itu merasa bersalah karena menganggap merusak acaranya bersama Jonghyun, calon suaminya. Padahal tidak seperti itu yang sebenarnya.
Ah.. Jonghyun calon suaminya. Shinhye baru teringat hal penting itu. Kemana perginya Jonghyun, kenapa dia tidak juga mengajaknya pulang, padahal ini sudah pukul 8 malam. Biasanya dia akan marah kalau jam 7 malam, dirinya belum sampai di rumah. Tapi ini..

"Aku harus pulang. Sudah larut. Istirahatlah.." pamit Shinhye dan segera beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan keluar. Bahkan tanpa melihat Yonghwa yang hendak menjawab ucapannya.

"Hati-hati di jalan.." ujar Yonghwa lirih.

---oOo---

Sebuah mobil berwarna kuning dengan garis putih di samping kiri dan kanannya melaju cepat memutari lintasan balap dengan kecepatan penuh. Pandangannya lurus ke depan, dan sesekali melirik ke samping kanannnya saat sampai di salah satu pintu masuk, mengamatinya, dan berharap seorang namja berdiri disana. Baru setelah putarannya yang ke 45 seorang namja yang mengenakan jaket hitam dan helm biru di tangan kanannya masuk melewati pintu khusus untuk para pembalap, pelatih dan tamu penting.

"Kenapa lama sekali? " protes Soohyun sambil melemparkan sarung tangannya ke arah namja yang tak lain adalah Jonghyun itu dan membiarkan sarung tangan kotor itu mengenai bahu kirinya lalu terjatuh ke lantai marmer putih di bawahnya.

"Ada apa Hyung mencariku? " tanya Jonghyun tanpa menjawab pertanyaan Soohyun.

"Ck.. tidak bisakah kau sedikit santai..."

"Aku pergi..." ujar Jonghyun dan berbalik. Berjalan cepat untuk keluar, namun Soohyun mengucapkan sesuatu yang membuatnya terdiam di tempatnya.

"Hancurkan Yonghwa.." ucap Soohyun santai sambil menyandarkan punggungnya di kursinya yang empuk. Diambilnya majalah keluaran terbaru yang langsung didapatnya dari sang manager. Sebuah photo tiga orang yang sedang duduk berdampingan di kursi taman sambil tersenyum menghiasi cover majalah itu. Soohyun meletakkan kembali majalah itu ke meja, membiarkan Jonghyun melihatnya saat berbalik.

Soohyun tersenyum sinis saat melihat ekspresi Jonghyun yang tampak kaget dengan photo yang menjadi cover majalah. Tepat seperti dugaannya, adik sepupunya itu pasti masih saja ceroboh disela tindakan malaikatnya. Dan itu membuatnya semakin menggebu-gebu untuk membuat saingan beratnya benar-benar lenyap, sekalipun itu hanya bayangan. Ia tidak akan membiarkan dirinya selalu dihantui perasaan takut atau cemas saat bertanding.

"Aku bisa saja membuat majalah ini tersebar luas ke seluruh penjuru dunia. Dan aku bisa membuatnya hilang dari peredaran hanya dengan satu jentikan jari. Semuanya tergantung keputusanmu." Ujar Soohyun penuh kemenangan.

"Apa yang hyung inginkan? " tanya Jonghyun dengan tangan yang mengepal menahan amarah.

"Seharusnya, kau tidak membawanya ke muka umum. Untung aku menemukannnya dulu, kau tahu akibatnya bukan kalau sampai managermu tahu tentang ini."

"Cepat katakan apa mau Hyung! " bentak Jonghyun kasar. Soohyun hanya tertawa kecil melihat Jonghyun sudah sepenuhnya marah. Ia berdiri dan menepuk bahu Jonghyun pelan lalu berbisik tepat di depan telinganya, "menikahlah dengan kekasihmu. Lalu campakkan dia setelah kau mendapatkannya tepat di depan Yonghwa, itu pasti sangat menyenangkan.."

---oOo---

Jonghyun berjalan lemas dari arena balap menuju parkiran motornya. Jaket yang tadinya membungkus badannya dari terpaan angin musim dingin yang sudah mulai mendekat, kini terselempang begitu saja di bahu kirinya. Sebelah tangannya menenteng sebuah map biru tipis yang baru saja ditanda tanganinya. Tak disadarinya, butiran-butiran bening dari kedua matanya terjatuh begitu saja. Turun membasahi pipi, dan berbelok tipis saat lesung pipinya terlihat sedikit.

"Tuan, anda dilarang lewat sini, ini pintu untuk para penonton. Di luar ada banyak sekali fans anda yang menunggu. Sebaiknya anda melewati pintu khusus agar cepat keluar dari sini." Ujar seorang laki-laki paruh baya sambil menghampiri Jonghyun dengan sedikit terengah.

"Gwaenchana ahjusi, sudah lama saya tidak menyapa mereka. Ahjusi kembali bekerja saja." Jawab Jonghyun setelah menghapus air matanya dan menunjukkan senyum terpaksanya. Laki-laki yang tak lain adalah orang suruhan Soohyun itu hanya mengangguk kecil lalu meminta ijin kembali ke dalam secepatnya. Jonghyun menatap punggung laki-laki itu dengan tatapan lesu dan iba. Kalau saja ia bisa melakukan hal yang lebih. Pasti dia akan mengeluarkan laki-laki itu dari sini dan memberikannya pekerjaan yang lebih baik. Memang, pekerjaannya saat ini mendapatan gaji yang lumayan besar, tapi jika bekerja dengan orang seperti saudara sepupunya itu, sama saja dengan membuat lubang besar di setiap jalan yang ada. Dan jika salah satu lubang tak bisa dihindarinya dengan baik, maka seluruh hidupnya akan hancur seketika.

Tapi bisa apa dia sekarang? Dengan sedikit kekuasaan yang dimilikinya maupun orang tuanya, tetap saja dia tidak bisa melawan kekuasaan seorang Kim Soohyun.

Jonghyun kembali menapaki selangkah demi selangkah kakinya menuju pintu keluar di depannya. Degupan jantung yang tiba-tiba berdentum keras membuat kepalanya sedikit pening. Rasa takut akan apa yang harus dikatakannya sebentar lagi membuat tangan dan kakinya bergetar. Bagaimana ini? Haruskah ia melakukan ini? Demi apa? Demi kebahagiaannya? Apa benar ini bisa membuatnya bahagia?

Kilatan blitz dari puluhan kamera segera menghantam Jonghyun, sekalipun baru sedikit pintu yang terbuka. Dan dalam hitungan detik berikutnya suara-suara dari belasan orang menyerbu indera pendengarannya. Menyusup dalam hingga membuatnya sedikit menunduk.

"Lee Jonghyun! Lee Jonghyun! Lee Jonghyun!" Teriak histeris para fansnya yang ternyata juga berada di belakang para wartawan. Ia segera mendongak, memantapkan hatinya, lalu melambaikan tangannya ke atas yang disambut dengan suara teriakan histeris dari para yeoja di sana.

"Tuan, apakah benar anda akan segera menikah dalam waktu dekat ini? "

"Apa benar anda sudah menyetujui untuk mengikuti lomba di tingkat dunia? "

"Benarkah kabar yang menyebutkan bahwa anda ingin keluar dari dunia yang membesarkan nama anda? " tanya para wartawan dengan cepatnya.

Jonghyun sedikit tersentak dengan satu kalimat pertanyaan yang dilontarkan untuknya. Apakah memang ini yang harus dilakukannya? Demi masa depannya? Demi kebahagiaannya?

Berbagai macam pertanyaan yang semakin bertubi-tubi didapatnya semakin membuat namja putih pemilik tubuh yang ideal hingga membuatnya terpilih sebagai icon di beberapa iklan pemerintah itu menghembuskan nafas dalamnya perlahan sebelum akhirnya menatap satu persatu wartawan dan fans setianya yang harap-harap cemas dengan keputusannya. Lalu sambil tersenyum hangat ia pun menjawab pertanyaan yang didengarnya dengan satu kalimat yang cukup panjang, yang membuat para fansnya beruforia.

"Ne, Sebentar lagi saya akan menikah. Tapi saya tidak akan meninggalkan dunia balap ini sebelum saya mencapai puncak. Terima kasih semuanya..."

---oOo---

"Yong..Kau sudah bangun? " tanya Nyonya Jung sedikit kencang saat melihat tempat tidur Yonghwa kosong dan kursi rodanya juga tidak ada. Diletakkannya baki berisi nasi dan sayur beserta daging kesukaan Yonghwa di atas meja dan segera menjelajahi setiap sudut kamar putra semata wayangnya ini yang baru beberapa hari yang lalu kembali bersemangat menjalani hidupnya. Sebersit fikiran buruk menghinggapi hati Nyonya Jung saat beberapa tempat favorit Yonghwa di dalam kamarnya ini terlihat kosong dan rapi. Bahkan gordennya pun masih tertutup rapat. Kemana Yonghwa pagi-pagi seperti ini?

"Eomma.." panggil Yonghwa dari belakang Nyonya Jung.

Wanita berumur 45 tahun itu segera berbalik dan dengan waktu yang bersamaan ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, menutupi keterkejutannya atas apa yang dilihatnya saat ini.

"Eomma ..."

Panggil Yonghwa sekali lagi. Kali ini dengan suara yang sedikit kencang dan sebuah senyuman lebar dari bibirnya, mengekspresikan kebahagiaan yang kini menyelimuti hatinya. Nyonya Jung bergerak maju dengan perlahan, memegang kedua tangan putranya, dan bergerak naik dengan perlahan hingga berakhir di kedua pipi Yonghwa. Rasa terkejut yang tadi menghinggapinya kini berubah menjadi satu kebahagiaan yang tak terhingga. Hingga membuat pipi ibu dan anak itu basah oleh luapan kebahagiaan yang mereka rasakan.

"Eomma, Yonghwa bisa berjalan lagi. Yonghwa bisa berjalan lagi eomma. Eomma, Yonghwa bisa berjalan lagii..." ujar Yonghwa semangat.

Nyonya Jung segera memeluk tubuh putranya erat dan mengangguk pasti sambil menepuk punggung Yonghwa pelan. "Ya, Eomma tahu, eomma tahu sayang. Selamat sayang.. Selamat, dan terima kasih. Terima kasih Tuhan, kau sudah mengembalikan kebebasan putraku untuk melangkah. Terima kasih.."

---oOo---

Terik sinar matahari siang ini cukup terik. Udaranya pun terasa panas, walau sedikit angin yang menerpa terasa dingin. Beberapa pejalan kaki yang berjalan santai di trotoar sedikit tersenyum melihat sepasang kekasih yang duduk di bawah pohon yang cukup rindang sedang saling menyuapkan makanan yang mereka bawa secara bergantian. Terdengar gelak tawa dari keduanya saat dengan sengaja salah satu dari mereka menggoda pasangannya dengan kalimat-kalimat konyol yang membuat salah satu dari mereka tersenyum malu sambil mencubit gemas pipi kekasihnya yang chubby.

"Kalian memang serasi, sangat serasi malahan. Tapi sungguh, aku minta maaf, aku harus melakukan ini pada kalian. Mianhae. Jeongmal mianhae." Ucap seorang namja tak jauh dari kedua sejoli itu sambil menstarter mobilnya dan segera bergerak cepat ke depan saat yeoja yang sebelumnya tersenyum riang sambil melambaikan tangannya, kini berjalan santai ke tengah jalan karena memang ini saatnya para pejalan kaki menyeberang jalan. Dan beberapa saat kemudian, terdengarlah bunyi dentuman di tengah jalan dan teriakan histeris dari orang-orang di sekitar.

Cckkkiiittttt.....

Mobil yang sedetik lalu menghantam tubuh mungil yeoja berbaju kuning itu berhenti sejenak, membiarkan beberapa orang memotret nomor mobilnya dan membuang sebuah buku kecil ke tengah jalan dengan cepat saat beberapa orang mulai menghampirinya.

"Shinjiee!!!!!!!!"

--- To Be Continue ---

Catatan Admin :
Can't Stop Part 2 akhirnya diposting, selamat membaca dan jangan lupa komennya ya :)

Update postingan FF di blog bisa dilihat di facebook HS Corner Shop atau di twitter Lovetheangels1

7 comments:

  1. Terharuu..waktu yonghwa mulai bs jalan..n eommax memeluk yonghwa n sambil nepuk punggungx... "eomma tau sayang......" jd pengen nangiiss.
    Shinhye ditabrak siapa tuh?? Jonghyun?? Srbenarx knp sih soohyun nih segitu bencix sm yonghwa?? Aahh authornim critax tambah bikiin penasaraaan...ditunggu lanjutanx ya?? ^_^ gonawo ♥♥

    ReplyDelete
  2. Makin seru aja nih ceritanya. .. soohyun jahat bgt sihh. ...demi sebuah ambisi mampu mnghalalkn sgla cara..hmm ..yongie baru ktmu sma shinjie kcilnya msa udh mw brpisah lgi..??!!
    Dtnggu next part nya..gomawo^-^

    ReplyDelete
  3. penasarann jalan ceritaanyaa. romantis, menegangkan, mengharukan. di tunggu part selanjutnyaaa authoorrr :)

    ReplyDelete
  4. Ah jonghyun oppa jangan mau ya ??

    Sih soohyun oppa kok jahat amat sih ??

    Yang nabrak shinhye eonni siapa ?? Mungkinkah jonghyun oppa ??

    ReplyDelete
  5. Omo soo hyun oppa kau jahat sekali salah apa yonghwa sampai kau mw menghabisi nya bahkan gak kau izinkan dy buat menata hidupnya lagi... jangan bilang semua krna aku sekarang mencintai yonghwa hikss...kerwn waagbie cuss ke part selanjutnya

    ReplyDelete
  6. Soohyun jahat sx oppa,ap yg ketabrak shinjie???

    ReplyDelete
  7. Soohyun jahat sx oppa,ap yg ketabrak shinjie???

    ReplyDelete