Mr. & Mrs. Jung
Author : Wangbie
Genre : Family, Romance
Cast : Jung Yonghwa, Park Shinhye
Lenght : Oneshoot
Sumber : Mr. & Mrs. Jung
~Don't bash! Don't copypaste without permission! Thanks...~
Happy reading...
---oOo---
Suara-suara di lapangan depan sana mengusik ketenanganku.
Bukan karena aku merasa diganggu, aku merasa suara-suara itu sangat ingin terdengar lebih dekat. Kalau bisa mereka berbisik tepat di telinga.
Bagaimana ya rasanya? Apa menyenangkan seperti kata kebanyakan orang, atau malah sebaliknya? Mengganggu, membuat pusing.
Aku ingin membuktikannya sendiri.
"Sayang... melamun apa? " tanya Yonghwa pelan dengan kedua tangan yang memutar bahuku pelan hingga kami berhadapan.
Sorot matanya tampak berbinar-binar.
"Bogoshipeo Yong..." jawabku pelan, masuk dalam dekapan hangatnya yang memang selalu membuatku ingin terus dan terus mendekapnya kuat.
"Ya ampun, sayang... aku hanya pergi sebentar ke kamar mandi, cuma 5 menit. Kamu sudah merindukanku? Seharusnya tadi ikut saja..." godanya dengan nada bicara mengejek, berbeda sekali dengan tindakannya.
Kalau memang dia tidak merindukanku juga, untuk apa dia sekarang memelukku sambil berputar-putar pelan seperti ini?
ckck.. dasar Mr. Jung my husband.
"Sayang.. kenapa diam? " tanyanya setelah menghentikan acara hug dance kecil kami.
Aku sudah menduganya, Yonghwa pasti bingung dengan tingkahku.
Biasanya kami akan selalu beradu mulut sampai salah satu dari kami kesal dan mengurung diri di kamar.
Dan biasanya, Yonghwa yang lebih banyak merasakan kesal itu.
Dia selalu mengalah dalam hal apapun jika terhadapku.
"Yong..." panggilku sedikit manja.
Segera, tidak butuh waktu lama untuk menunggu matanya membelalak sempurna, aku berani bersumpah, Yonghwa pasti mengira aku sakit atau semacamnya.
"Yong..."
"Hye... Shinhye sayang... kamu sakit? " tanyanya khawatir sembari meletakkan punggung tangan kanannya di atas keningku dan tangan kirinya di keningnya sendiri.
Aku tersenyum,
Yonghwa semakin terlihat gelisah.
"Ya ampun, Jung Shinhye... jebal.. jangan bertindak seperti ini. Ini bukan dirimu sayang.. Aku bisa gila..."
"Aku hanya ingin bermanja-manja denganmu. Apa tidak boleh? " dengusku kesal.
Ku lepas tangannya kasar, berjalan menghentakkan kaki sembarangan menuju balkon rumah yang terbuka.
Beruntung, angin sore hari ini terasa sejuk.
Ku hirup udara sebanyak-banyaknya, berharap sesak sedikit berkurang.
"Sayang... kamu kenapa? " tanyanya sedih.
Yonghwa berdiri di samping kiriku, ku lihat sekilas, tangannya bergerak gelisah. Mungkin bingung memutuskan untuk menyentuhku atau tidak.
Yonghwa tahu, aku lebih sensitif kalau sedang kesal.
Aku menggeser tubuhku sedikit, hanya untuk memberikan jarak agar kami tidak bersentuhan.
Hembusan nafas frustasi di sampingku sedikit membuat rasa jengkelku berkurang.
Ku alihkan pikiran sejenak, kembali memperhatikan beberapa anak kecil tengah berlari, bekejar-kejaran sambil tertawa riang.
Tawanya renyah tanpa dosa, pipi-pipi menggemaskan itu terus menerus bertambah besar setiap bibir mereka terbuka lebar, tersenyum menunjukkan gigi putihnya yang mungil.
Salah seorang di antaranya mempunyai gigi gingsul di kedua sisi. Rambut coklat tuanya bergerak mengikuti kemana angin meniupnya. Anak itu yang paling lucu.
"Eommaa... Se ju ingin ice cream seperti itu..." rengek anak itu manja.
Lihatlah betapa menggemaskannya ekspresi memohonnya. Menarik-narik celana ibunya kuat-kuat sampai sang ibu berjongkok, menyamakan tinggi tubuhnya yang semampai dengan si putranya.
Sempat ku lihat, wanita itu melepas high helsnya begitu saja.
Tidak jelas apa yang diucapkan si ibu, beberapa saat kemudian anak lucu itu mengangguk antusias dan berteriak memanggil teman-temannya.
Antusiasme yang besar itu membuat si anak semakin tersenyum lebar, melihat ibunya menarik salah seorang teman laki-laki paling tinggi untuk menyatukan kedua telapak tangan mereka dan merenggangkan jarak.
Oh..
Ternyata mereka bermain kereta api, salah satu permainan yang sangat aku sukai waktu kecil.
Tanpa sadar aku tertawa pelan.
"Sayang..." panggil Yonghwa lirih, suaranya masih gamang.
Terlihat sekali dia masih bingung. Takut melukai perasaanku lagi.
"Yong... Aku ingin bermain bersama mereka..." rengekku manja.
Entah kenapa aku tiba-tiba memeluknya, merengek layaknya anak kecil dan air mataku keluar.
Astaga..
Shinhye, apa yang kau lakukan?
Aku bingung, Yonghwa pasti lebih bingung lagi.
Namja itu sekarang membeku seperti es di tempatnya, tidak bergerak, tidak juga membalas pelukanku.
Aku semakin terisak, sampai akhirnya Yonghwa memelukku.
Mengusap punggungku lembut lalu mengecup puncak kepalaku lama sekali.
Aku merasa sangat bersalah padanya sekarang.
Aku sudah bertindak kekanak-kanakan, sangat kekanak-kanakan malahan.
"Mianhae, Yong... Aku sendiri juga tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Tiba-tiba aku kesal, tiba-tiba juga aku ingin seperti ini. Dan aku sangat ingin bermain bersama anak-anak itu. Please...." jelasku mengiba.
Pasti hatinya sangat terluka sekarang melihatku seperti ini.
Penjelasanku pun sepertinya sangat dangkal. Tidak ada kalimat penyelesaian atau pengakuan, aku hanya ingin bermain dengan anak-anak itu. Sekarang. Aku mau sekarang.
"Yonghwa... jeball..." ibaku sekali lagi.
Perlu beberapa detik sebelum Yonghwa mengangguk dan menuntunku keluar.
Aku sangat senang seketika itu juga.
---oOo---
Malam ini Yonghwa yang memasak.
Sepulang dari bermain dengan anak-anak di lapangan tadi sore aku kembali murung.
Masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa tanpa minum atau membersihkan diri. Aku langsung masuk ke dalam kamar, mengunci pintunya selama 2 jam dan mendapati Yonghwa, suamiku duduk termenung memeluk kedua lututnya sambil menopang kepalanya di atas lutut.
Matanya terpejam, tapi bekas air matanya masih terlihat di pipinya.
Apa aku sangat keterlaluan?
"Sayang.. kamu ingin makan apa? Nasi goreng? Atau sayur sop? Atau mau jus apel? Atau mau makan buah saja? " tanyanya langsung setelah menyadari aku berdiri mengamatinya.
Tertegun sebenarnya.
"Kamu menangis? " tanyaku dengan bodohnya.
Tentu dia akan menggeleng seperti sekarang. Bahkan bibirnya itu tersenyum lebar dan mengecup pipiku singkat.
"Mianhae..."
"Sayang... aku tahu, mungkin kamu ingin sendiri dan berfikir. Aku bisa menunggunya. Malam ini aku bisa tidur di sofa depan tv. Ada selimut di sana. Tapi sebelumnya kamu makan dulu ya. Aku akan memasakkannya untukmu. Tunggu 15 menit. Ok." Ucapnya semangat sambil menarik tubuhku menuju kursi dekat dapur.
Mendudukkan aku di sana layaknya anak kecil yang harus duduk manis selagi menunggu masakan untuknya siap.
Yonghwa sangat terlihat lelah, guratan di keningnya masih tertinggal sebagian.
Bahkan senyum itu hanya senyum setengah hati.
Hatinya pasti masih sakit karena sikapku.
Ingin rasanya berjalan ke arahnya lalu menggantikan aktifitasnya sekarang.
Sudah seharusnya aku memasak untuknya.
Biasanya juga aku yang memasak, tapi entah kenapa hari ini benar-benar membuatku kehilangan selera untuk melakukan apapun.
Akhirnya pun masih sama, Yonghwa menyelesaikan masakannya dalam waktu 15 menit tepat.
Membawanya padaku dan tanpa diminta menyuapkan satu per satu sendok makanan buatannya sampai habis.
Masakannya sangat enak. Dari mana dia belajar semua itu?
Setelah makan malam Yonghwa menggendongku masuk ke dalam kamar.
Menata selimut sampai menutupi sebagian tubuhku.
Dia tersenyum, tapi senyumnya masih terlihat sedih.
Astaga..
Aku belum melakukan apa-apa untuk memperbaiki suasana hatinya yang sudah aku rusak.
"Yong..."
"Aku tahu... Aku akan keluar sekarang." Dia tersenyum lagi. Lebih terlihat tulus, tapi kini kedua matanya di penuhi genangan air.
"Yonghwa... Yonghwa.. Jung Yonghwa... Saranghae.. Saranghaeyo.. Tolong jangan menangis..." seruku kencang sambil menahan tangannya.
Yonghwa kaget,
Tanpa menunggu lebih lama lagi aku merangsek dalam pelukannya, mengeluarkan semua kekesalan yang seharian ini sangat menguasai suasana hatiku.
Cukup lama, hingga akhirnya aku terlelap dalam dekapannya.
---oOo---
Aku terbangun tengah malam, lampu kamar sudah di matikan. Tanganku meraba sekitar,
Yonghwa tidak ada.
Apa suamiku itu benar-benar tidur di luar?
astaga.. Shinhye pabo!
Ku langkahkan kaki cepat, berlari keluar kamar, dan mematung.
Yonghwa, suamiku duduk di lantai dekat pintu kamar, menggerak-gerakkan badannya tak sadar karena kantuk.
Perasaan bersalah itu semakin menusuk,
Apa yang sudah kamu lakukan pada suamimu sendiri Park Shinhye!!!
"Yong..." panggilku pelan.
Takut kalau dia kaget, dan kenyataannya dia memang kaget.
"Kamu terbangun sayang? Apa ada yang kamu inginkan? Aku bisa melakukan semuanya untukmu.." ucapnya lembut.
Sorot matanya bersinar cerah saat mendapatiku menangis dengan pelan disampingnya.
Bukan karena aku menangis tentu Yonghwa tersenyum. Melainkan perasaan lega mungkin, karena akhirnya aku keluar, membuka pintu.
"Ayo istirahat di dalam..." kataku penuh harap.
Ku harap dia tidak marah.
"Benarkah aku boleh masuk? " tanyanya tak percaya seakan-akan aku adalah yeoja paling kejam di dunia.
Aku hanya mengangguk, menarik tangannya cepat.
"Mianhae Yong...
Aku sendiri tidak tahu kenapa bisa begitu. Sungguh..." ucapku takut saat Yonggwa sudah memelukku erat setelah berbaring disampingku.
Jendela kamar kami masih terbuka, dan bisa terlihat jelas bulan sabit di langit sana.
"Kamu tidak tahu sayang? "
"Hhmm.. Sungguh, aku tidak tahu Yong.. tiba-tiba aku ingin begitu dan begini. Aku bahkan tidak tahu apa yang aku pikirkan tadi."
Yonghwa mengecup puncak kepalaku lama, lalu kening, mata, pipi, hidung dan terakhir sedikit menekan bibirku dalam.
"Aku tahu itu kenapa. Kemarin Dr.Lee kesini, menyerahkan hasil lab kita minggu lalu. Kamu sangat sibuk kemarin, jadi aku memang sengaja sampai kamu menyadarinya sendiri."
Apa?
tahu apa? Dr.Lee? Hasil lab?
Mungkinkah???
"Selamat sayang... Kamu dinyatakan positif hamil. Usia kandunganmu sudah satu bulan." Serunya senang,
Tangannya semakin memelukku erat.
Aku baru tersadar,
Aku baru menyadari semuanya sekarang. Aku tahu kenapa aku sering muntah, bad mood tanpa alasan, kadang manja, kadang cuek.
Ya Tuhan.. bodohnya aku baru menyadarinya sekarang.
Naluri kewanitaanku beraksi,
Tanganku mengelus perutku yang tentu masih rata dengan dibarengi sebutir air mata kebahagiaan.
Yonghwa kembali memelukku lagi.
"Gomawo sayang... Gomawo sudah memberikan kesempatan untukku menjadi seorang ayah.
Gomawo sayang..."
"Ani...aniyo Yong ...aku yang seharusnya berterima kasih. Terima kasih karena sudah mempercayakan ini untukku. Terima kasih..." sanggahku cepat.
Ku rasakan kepalanya menggeleng pelan.
"Gomawo sayang...Saranghae..."
"Nado Yong.. Nado sarangheyo..."
"Mrs.Jung..."
"Mr.Jung..."
.
.
.
"Kajja kita rawat little Jung ini dengan baik...dengan cinta.."
"Aku akan dengan senang hati melakukannya Yong.. dengan cinta...
"Dengan cinta kita..."
"Dengan cinta kita..."
.
.
.
--- Selesai ---

awaly bingung campur kesal dg sikap hye.tp akhiry tau jg.wb unni ciayoo
ReplyDeletehihi...
Deletegomawo .. ^^
Ciayoo unnn
ReplyDeletegomawo Ra ..
DeleteCiayoo unnn
ReplyDeletemr.jung , mrs.jung, dan jung junior hahah .
ReplyDeletehwaiting wangbie eonnii
hahah.. Jung junior .. lucu eh.. kkk
Deletegomawo...
Mr.jung , Mrs. Jung dan Jung Junior hahaha
ReplyDeleteAhhh ternyta shinhye kya gthu karna lagi hamil ..
ReplyDeleteWaaah bakaln ada baby lee
hihihi...
Deletebaby lee ? kkkk ~
gomawo ...
Yeee akan ada little Jung..
ReplyDeleteAku kira shin hye bersikap seperti itu karena nggak bisa hamil....
ReplyDeleteAwalnya ngira klo shin hye sdh pngin bgt pux anak,, eh trnyata,,,, senengnya pux suami kyk gtu,, hug yonghwa
ReplyDeleteAwalnya ngira klo shin hye sdh pngin bgt pux anak,, eh trnyata,,,, senengnya pux suami kyk gtu,, hug yonghwa
ReplyDeleteAwalnya ngira klo shin hye sdh pngin bgt pux anak,, eh trnyata,,,, senengnya pux suami kyk gtu,, hug yonghwa
ReplyDeleteAahhh mr. Jung so sweet bgt.... gomawo authornim
ReplyDeleteAahhh mr. Jung so sweet bgt.... gomawo authornim
ReplyDeleteKerennn unn.. sweet banget >_< Huaa aku mau punya keponakan lagi hahhaa, kaka ipar lagi manja nih sama abang ku :D
ReplyDeleteHihiii ..jdi tringat di awal2 bca ff mu dlu bie..slh satunya ff ini..iiihhh senengnya klo suami siaga kya gini ..kkkk^^
ReplyDeletekesel juga awalnya ma shin hye.... ternyata bawaan bayi ya....
ReplyDeletesosweet ayong