Saturday, October 17, 2015

[FF Indonesia] Raining Days (Oneshoot)

Raining Days


Penulis : Wangbie

Karakter : Jung Yonghwa, Park Shinhye

Sumber : Raining Days
---oOo---

"Tinggalkan semuanya.."

Yonghwa mengakhiri perdebatan sengitnya selama satu jam lebih di tengah kebun bunga milik Shinhye dengan tegas. Kebun bunga yang sama dengan yang di gunakan untuk menyatakan perasaannya beberapa tahun silam, sebelum ia menjadi seperti sekarang. Seorang laki-laki terpandang yang di elu-elukan oleh semua orang karena kemahirannya mengelola pabrik susu milik almarhum ayahnya, pabrik yang sudah bangkrut dan mengalami penyitaan selama dua tahun oleh seorang pebisnis asal negeri gingseng, Jung Il woo.
Sejak masih duduk di bangku SMA, Yonghwa memang sudah terkenal memiliki jiwa bisnis yang kental. Mulai membantu ayah dan ibunya di peternakan sapi milik mereka, menjadi distributor langsung dan ikut membantu mengelola sebagian hak yang memang diberikan untuknya dari sang ayah.
Kecerdasannya itulah yang pada akhirnya membuatnya harus berangkat ke Amerika untuk menerima beasiswa S2 yang diberikan oleh salah seorang gurunya. Sembilan tahun lamanya ia tidak pernah sekalipun pulang ke Jepang atau mengirim surat. Ia begitu menikmati hari-hari sibuk kuliah dan pelatihan di beberapa perusahaan yang memang sudah direkomendasikan oleh pihak kampus. Bahkan tidak sekalipun ia membalas email dari Shinhye, yeoja yang dengan setianya menunggu kepulangannya. Sesuai dengan janjinya pada Yonghwa dulu, menunggu, menunggu dan menunggu.

"Apa kurang jelas? Tinggalkan semuanya, lupakan semuanya, dan hapuslah namaku di dalam daftar hidupmu. Aku tidak bisa kembali seperti dulu, aku tidak bisa mengatakan hal manis layaknya masa ABG kita. Semuanya sudah berubah. Semuanya sudah tidak bisa kembali seperti sedia kala." Yonghwa mengulangi pernyataan tak terbantahkan darinya lebih tajam, lebih dingin, bahkan tak ada sedikitpun niat untuknya menoleh, mencari tahu bagaimana hancurnya perasaan yeoja yang kini tengah menggigit bibirnya keras, menahan isakan yang pasti akan membuat namja di depannya mengatakan dirinya lemah.
Tidak, Shinhye tidak mau dianggap seperti itu. Tapi mendengar kalimat demi kalimat yang terus menusuk hati, yeoja mana yang akan kuat menahan air matanya walaupun itu hanya setetes. Yeoja mana yang akan tersenyum riang ketika orang terkasihnya yang selama 9 tahun pergi, tiba-tiba datang membawa kabar berakhirnya hubungan mereka. Hubungan yang tidak bisa dikatakan mudah, sebentar, dan baik-baik saja. Hubungan yang pastinya akan mengalami fase dimana seseorang akan cemburu, sakit hati jika salah satunya tak sekalipun menyapa seharian hanya karena seorang anak baru yang minta diajak berkeliling sekolah. Hanya sebuah permintaan maaf dan seulas senyum kecil keesokan harinya, rasa sakit itu hilang lalu tergantikan oleh sakit yang lain. Begitu berulang-ulang tanpa rasa jenuh atau mencoba mengakhiri.

"Aku mencintainya..."

Itu alasannya jika ada orang yang bertanya, "kenapa kamu tidak mau menerima Minho? " atau, "untuk apa kamu terus menuliskan kegiatan setiap harimu lewat email yang tak dibalas? ".
Sakit memang.
Seperti ditusuk ribuan pisau lancip dan beracun. Mengoyak semua perasaan lalu mematikannya seketika tanpa penyesalan apapun. Apakah semua memang sudah ditakdirkan seperti ini? Apakah seorang yeoja bak malaikat suci harus terus menangis pada setiap tidurnya karena seorang namja? Adilkah ini untuknya?

"Kenapa diam? Tidak bisakah kamu bicara untuk menjawab? Tidak bisakah kamu menggunakan sopan santunmu untuk menghargai orang yang berbicara padamu? " bentak Yonghwa keras.
Shinhye tergagap, meremas pinggiran roknya kuat-kuat, ikut berbalik memunggungi Yonghwa. Yeoja itu segera menghapus air mata di pipinya kasar, menarik nafasnya kuat-kuat sebelum akhirnya menuruti permintaan namja yang selalu tak pernah ditolaknya. "Bukan Shinhye yang tidak sopan. Tapi Oppa sendiri, kenapa tidak menatapku saat bicara? Kenapa tidak mengucapkan salam dulu sebelum masuk ke sini? Kenapa terus berteriak tak tahu malu di hadapan para pekerja kebunku sampai mereka lari karena takut? Kenapa bahkan tak sekalipun oppa menjawab pertanyaanku sedangkan oppa terus memaksaku menjawab semua pertanyaan oppa dengan jawaban yang oppa mau? Siapa yang tidak sopan sekarang? " Shinhye mencengkram batang pohon bunga mawar di depannya. Seketika itu juga tetes merah segar keluar dari telapak tangannya yang putih. Menetes pada kaos hijau bergarisnya yang terus turun dan jatuh ke tanah. Perih rasanya.

"Tidak perlu sapaan yang hanya untuk mengulur waktu. Tidak harus menjawab semua pertanyaan karena itu hakku untuk diam."
"Jadi, hanya oppa yang punya hak untuk diam? Ck, aku baru tahu ternyata oppa sangat egois.
Aku salah menilai oppa selama ini, sekarang aku tahu. Sikap manis oppa hanya oppa gunakan untuk menarik simpati dan pujian orang lain. Tapi apa gunanya pujian dari orang desa seperti aku jika di luar sana oppa sudah mendapatkan lebih banyak dan lebih bernilai.
Oppa bahkan tidak sekalipun menghargai jerih payahku. Mengirimi email setiap hari tentang kegiatanku agar oppa tidak khawatir aku makan, istirahat, berteman dengan baik seperti permintaan oppa dulu. Apa oppa juga sudah melupakan semuanya? Semua janji yang oppa berikan padaku sebelum oppa berangkat? Apa oppa tidak tahu bagaimana rindunya kedua orang tua oppa setiap hari hanya karena kesibukan oppa di sana. Tidak tahukah oppa bagaimana perasaan seorang ibu yang menunggu telepon dari anak semata wayangnya setiap detik sampai tidak mau keluar rumah, takut kalau anak yang sangat sibuk akan kecewa saat teleponnya tak di angkat? Tidak bisakah oppa sekali saja membaca ekspresi penuh harap dari orang-orang yang mencintai oppa? Orang yang sama dengan orang yang 12 tahun lalu oppa kejar-kejar sampai rela tidur di atas atap rumah, orang yang sama dengan orang yang satu jam lalu oppa ajak bertemu mendadak dan memberikannya kabar paling bagus dari yang pernah di dengarnya? Apa oppa tidak tahu semua itu, eoh? Dimana oppa yang dulu? Oppa yang akan selalu tersenyum hangat dan bersikap lembut pada semua orang? Dimana oppa? Dimana Yonghwa oppaku??? " Shinhye histeris.
Melupakan semua harga dirinya yang akan jatuh di depan namja asing bernama Jung Yonghwa. Namja yang katanya kekasihnya dulu, kekasih dengan cinta dan kelembutan yang akan membuat setiap yeoja merasa iri padanya.

"Dia, Jung Yonghwa yang dulu sudah mati. Sudah hilang di tengah badai salju musim dingin sembilan tahun yang lalu. Tidak ada Jung Yonghwamu, sekarang hanya ada Jung Yonghwa, pebisnis nomor satu di dunia yang bisa mendapatkan semua keinginannya dengan mudah. Bahkan Jung Yonghwa yang sekarang bisa mendapatkan 1000 kali yeoja lebih baik darimu. Dan yang pasti, yeoja itu akan bisa membuatku menduduki tingkat langit ke tujuh." Jawab Yonghwa angkuh.
Namja itu terus menatap lurus ke depan tanpa berkedip. Mempertahankan sikap dinginnya yang sudah dijaganya selama ini dengan mudah. Ia bahkan tak sedikitpun bergeser dari tempatnya sekarang.

Angin kencang bertiup dari arah timur, menerbangkan dedaunan kering dari atas pohon, membawanya jauh entah kemana karena awan hitam yang menggantung di langit sudah menutup pintu. Tak mengijinkan sedikitpun celah untuk sang mentari memberikan sedikit cahaya untuk bumi.
Gumpalan hitam tak berujung di sana terus bergerak memadat, memperkokoh kekuatannya memberikan limpahan air hujan pada hari pertama. Bunyi gemuruh petir dan guntur menyala-nyala, memekakkan telinga seorang bayi yang menangis kencang ketakutan di dalam bilik kecil pada ujung taman.
Malang sekali ia, dimana ibunya? Kenapa sang ibu tega meninggalkan putri kecilnya sendirian saat hujan lebat? Atau suara sang ibu teredam bunyi air hingga tak terdengar? Atau memang dua orang yang masih berdiri, saling memunggungi satu sama lain di tengah barisan mawar merah sudah benar-benar tak bisa mendengar suara selain hati dan pikirannya sendiri? Benarkah seperti itu?

"Aku benci oppaaaa!!!" Teriak Shinhye lantang sambil berbalik. Menatap sendu punggung Yonghwa yang kini mulai bergerak ke depan, menjauh.
Bibirnya bergetar, telapak tangannya yang berdarah terus saja mengalirkan air merah ke bawah. Bermuara pada satu lubang tak jauh dari Shinhye berdiri yang dengan ajaibnya tak mau mengalir lagi. Pandangannya mulai kabur, antara air matanya yang bercampur air hujan dan kabut air yang mulai menyamarkan sosok tegap di depan sana. Yonghwa, Yonghwa yang terus berjalan tanpa menoleh, meninggalkan Shinhye yang jauh di belakangnya. Shinhye yang sekarang sudah terjatuh bertumpukan ranting mawar penuh duri yang menancap di tangannya.

Hujan meneruskan misinya, menemani dua jalan berbeda dari dua orang yang dulu saling mencinta.
Cinta yang berakhir seperti hujan,
Datang menyejukkan, tapi akan dengan kejamnya menghancurkan pondasi rumah di atas tanah yang terbuat dari kapur. Putih... lalu hilang.

--- Selesai---

8 comments:

  1. Huwaaa...Aku mewek bacanya
    Sekian lama tidak bertemu lalu dengan mudahnya datang memberikan kabar yang sangat mengejutkan...
    Kasihan shinhye...

    Good job author!!

    ReplyDelete
  2. Oh my God! Very sad dr awal hingga akhir. Sungguh menyakitkan brada d posisi mrka trutama shinhye. Huuhh...bnr2 menguras air mata. Knp yong lbh mmpertahankn kdudukan dan harta dibandingkn ssinz....apakh sbgtu buruknya seseorang yg mmpunyai cinta yang tulus smpai dia harus menerima setiap goresan luka yg sngt dalam lbh perih dr sekedar goresan akibat mawar yg brduri.
    Aahh..sangat sangat menyentuh dan menyesakkan---

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mw gantiin posisi Hye kgk unn ?, haahha... V

      gomawo...

      Delete
  3. Kyaa kok sad ending,, rasanya hatiku ikut tersayat sayat

    ReplyDelete
  4. Kyaa kok sad ending,, rasanya hatiku ikut tersayat sayat

    ReplyDelete