Emotional Angel
Author : Wangbie
Genre : Romance
Leght : Oneshoot
Cast : Jung Yonghwa, Park Shinhye
Sumber : Emotional Angel
~Don't bash! Don't copypaste without permission! Thanks...~
Happy reading...
---oOo---
Setelah berbulan-bulan lamanya air yang menetes menyatakan kehadirannya atas suatu peristiwa itu absen. Sempat kesulitan untuk mengeluarkannya, bahkan aku hanya mampu menarik nafas lalu membuangnya pelan. Begitu terus, berulang-ulang.
Lega, sangat lega karena sedikit mengurangi beban,
Sakit, sesak karena harus menahan kuat agar tidak mengeluarkan isakan.
Menggigit bibir, menekan tangan yang mengepal pada kedua lulutku di depan dada.
Dunia serasa gelap ketika mata terpejam seolah berputar, berputar setengah lalu berlari selama satu detik dan kembali berpijak sebentar sebelum berotasi ulang dengan tempo yang sama.
Ku buka mataku perlahan,
Semua seperti bayangan, tertutup genangan tipis di depan kornea lalu terjatuh dan digantikan genangan lain.
Semuanya serba salah.
Seandainya aku di tengah hutan belantara tak berpenghuni, dapat ku pastikan burung di pucuk pohon akan terbang tergopoh-gopoh saat aku berteriak, mungkin serangga dalam tanah pun enggan keluar setelahnya. Atau haruskah aku pergi ke tengah lautan, berharap angin topan datang, menenggelamkan perahu kecilku tanpa menunggu aba-aba. Pasti ombak yang menyapu bisa meluapkan emosi dalam jiwa sekaligus, menghilang dan tak mungkin kembali.
Itu akan lebih baik bukan,
Lalu tak lama kemudian suara-suara ejekan paling menyakitkan akan menghantui tidur panjangku yang dingin.
"PENGECUT!"
Haahh...
Peduli apa aku atas tanggapannya?
Dia sendiri yang mengatakan pada semua orang kalau dirinya sendiri adalah pengecut. Sebenarnya hanya pada orang-orang terdekat yang mengenal baik dirinya.
Lalu?
Oh, atau itu akan menjadi seri karena sepasang pengecut akhirnya saling jatuh cinta.
Cinta gila, yang berakhir pada suatu tempat asing bernamakan penjara hati.
Tepat, itulah mungkin maksudnya.
"Hye, kajja kita makan. Aku sudah memasak makanan kesukaanmu, kali ini pasti lezat. Kau bisa mencobanya sendiri, dan besok-besok aku akan dengan senang hati membuatkannya lagi."
"Baik sekali, Yong. Pasti kau sudah bekerja keras selama ini. Itu kan bukan keahlianmu. Belajar dari mana? " jawabku ketus tanpa menoleh sekalipun aroma masakan kesukaanku, yang sudah dibuatnya selama lebih dari 3 jam menyeruak ke dalam indera penciumanku. Aku bertanya-tanya dalam hati, berapa banyak telur yang dikorbankannya hanya untuk satu omelet.
Fantastis!!, pasti uang bukan masalah untuknya. Tidak ada yang bisa meragukan itu.
Ku dengar dia menghela nafas dalam-dalam.
Sedikit merilekskan bahunya yang tegang -reaksi tubuhnya saat frustasi dengan hal sekitar- , meniupkan sedikit hembusan nafasnya yang menggelitik hingga menggerakkan sedikit rambutnya yang berantakan. Pasti keringat-keringat itu juga masih memenuhi wajahnya, dan para penggemarnya akan berteriak girang karena 'sexy man' dalam dirinya sangat terlihat saat seperti ini.
"Tadi aku menelpon eomma, dan bertanya bagaimana cara membuat omelet yang enak, sesuai dengan seleramu. Dan eomma..."
"Dan eomma akan menganggap aku istri yang sangat tidak pengertian karena membiarkan suaminya memasak sendiri. Menyiapkan segala sesuatu yang seharusnya aku lakukan.
kenapa tidak sekalian saja kau publikasikan pada dunia, kalau aku ini istri paling buruk di dunia!
Itu lebih baik dari pada kau berpura-pura baik sedangkan setiap malam hanya remasan tangan di pinggir ranjang yang menemanimu."
"Hye... sungguh aku tidak tahu harus menjelaskan bagaimana lagi untuk membuatmu tenang. Tidak bisakah kau bersikap sedikit tenang, tersenyum atau...."
"Atau aku harus memasang innocent face seperti dia, hah? "
"Jung Shinhye!!!"
"Wae? Kurang keras bentakanmu! Perlu aku ambilkan pengeras suara? " tantangku tak kalah kencang dari suaranya.
Aku tak peduli jika tetangga sebelah mendengar perdebatan kami sekarang, aku tidak peduli jika eomma atau appa atau siapapun tiba-tiba datang dan mendengar ini. Sungguh, aku tidak peduli semuanya.
Aku hanya ingin mengungkapkan kekesalanku, rasa sakit hatiku, rasa cemburuku.
Cemburu?
Astaga...
Apa yang sudah aku lakukan? Aku membentaknya, aku memang bukan istri yang baik untuknya. Seharusnya aku lebih menahan emosiku saat ini, membicarakannya baik-baik atau aku berpura-pura tidur supaya tidak perlu bersikap seperti ini.
Astaga...
Pabbo!
"Kau sudah tenang? Ayo, duduk dulu." Ajaknya pelan sambil meraih tanganku, duduk berdampingan di tepi tempat tidur kami yang besar.
Tiba-tiba rasa takut itu merayapi, pertanyaan tak terjawab pun memenuhi kepalaku yang terus saja berdenyut keras.
Bagaimana kalau dia marah, apa yang akan dikatakannya kalau besok dia berangkat kerja? Apakah dia masih mengecup keningku saat aku mengantarnya di depan pintu, jengahkah dia dengan sikapku ini? Atau jangan-jangan dia sudah mulai melirik yeoja lain, yeoja yang akan menggantikan posisiku sekarang, disini, di sampingnya, di hatinya...
Tidak!
Tidak boleh seperti itu. Tidak!
"Hye... lihat aku.."
Dapat ku rasakan ucapannya melembut, persis seperti lelehan ice cream yang menyejukkan di mulut saat terik matahari menyengat.
Oh Shinhye pabo! Kenapa kau bisa hilang kendali, apa kau tidak mengenal suamimu sendiri? Kemana kepercayaanmu yang selalu menjadi kebanggaannya, dimana pengertianmu atas semua tindak tanduknya, semua itu untukmu, Hye! Untukmu!
Dan rasa bersalah itu menundukkan wajahku dalam.
"Ya ampun, Hye...
Aku bisa gila kalau kau terus seperti ini. Rasa cemburumu benar-benar membuatku seperti orang idiot yang mencoba mengemudikan pesawat.
Mianhae..."
"Aku yang seharusnya minta maaf, aku salah.
Aku terlalu emosi saat keluar dari lokasi pemotretan dan melihat semua gambar itu. Mianhae..
Aku yang bodoh. Aku yang idiot. Aku yang pengecut.."
"Kemarilah..."
Dan tanpa menunggu lebih lama lagi aku pun masuk ke dalam dekapannya yang hangat. Menangis lebih kencang hingga aku dapat merasakan seluruh tubuhku bergetar, tangan Yonghwa semakin menguat memelukku, membiarkanku mencurahkan semua kebodohan yang pada akhirnya membuatnya ikut tersiksa atas kesalahanku.
Egoiskah aku?
Degup jantungnya berpacu cepat,
Aku sangat yakin dia saat ini sedang menahan sesak melebihi sesakku tadi.
Bahu kiriku basah,
Oh Tuhan...
Betapa jahatnya aku sudah membuatnya menangis lagi. Padahal ini tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan apa yang dirasakannya saat aku bermain dalam drama, melakukan banyak adegan romantis, hingga berciuman. Sekalipun aku sama sekali tidak merasakan semua itu, tapi dia pasti sangat terluka melihatnya. Kenapa aku yang baru saja melihat fotonya dengan yeoja, -Foto biasa, hanya berdampingan dengan jarak kira-kira 15 cm- aku bisa semarah dan sesakit ini? Lalu sakitnya selama ini seberapa dalam?
Oh...
Mianhae Yong.. Mianhae..
"Uljima..
Aku sangat sedih kalau melihatmu menangis seperti ini. Rasanya sangat sakit.." ucapnya lirih setelah berhasil melepaskan tanganku di tubuhnya agar dia bisa melihat wajahku.
Oh wajahku, seperti apa sekarang? Apakah terlihat jelas kekecewaanku pada diriku sendiri saat ini? Bisakah dia melihatnya?
Matanya tampak basah, hidungnya merah, dan bibirnya melengkung ke bawah, sangat sedih.
Ku beranikan tanganku menghapus air mata yang hendak turun dari matanya, menggeleng pelan lalu tak kuasa lagi untuk tidak memeluknya lebih erat.
Bahunya sedikit rileks saat tangannya juga ikut bergerak pelan di punggungku, menepuknya dan bibirnya yang bergetar mengecup puncak kepalaku lama.
Rasanya sangat menenangkan,
Astaga..betapa bodohnya aku...
"Aku ingin makan omelet." Ujarku cepat-cepat,
Sekedar untuk memberikan sedikit ruang untuknya berfikir. Pasti sangat kacau sekarang ini semua untuknya. Walaupun itu ide yang kurang bagus, tapi setidaknya kita bisa membicarakannya pelan-pelan. Sambil makan.
Hah?
Lucu.
Tapi itulah yang aku butuhkan, aku ingin lebih rileks. Dia pun juga pasti ingin.
"Aku hanya membuatnya satu, aku kurang berbakat dalam hal ini. Tapi aku bisa memberikan sesuatu yang lebih besar dan banyak untukmu."
Pintar!
Itu baru Jung Yonghwa,
Namja pecemburu yang sifat cemburunya itu menular banyak terhadapku. Namja itu pasti akan menyelesaikan semuanya dengan mudah, dan aku pun terbawa oleh suasana hatinya.
Aku memang selalu mengikutinya untuk hal itu, bagiku, keinginannya adalah suatu keharusan untukku. Dan harus itu berarti segera dilakulan dengan cepat, tepat. Karena hanya itulah yang bisa mengembalikan senyumnya. Senyum paling mempesona yang dengan sangat beruntungnya aku bisa mendapatkan keutuhan senyum itu.
"Tapi, sebelumnya dengarkan aku dulu. Ok."
"Ok. Sebagai permintaan maafku, aku akan melakukan apapun untukmu."
"Apapun? " tanyanya sedikit tak percaya.
Dan aku hanya mengangguk pasti untuk menjawabnya. Sekarang aku tidak boleh seperti ini lagi, itu harus. Karena ini hanya akan membebaninya, aku harus menunjukkan dan memberikan apa yang sudah sepantasnya didapatkannya dariku. Dengan begitu, dia tidak perlu khawatir lagi aku pulang dalam keadaan mata sembab atau membentaknya seperti tadi. Dia juga tidak perlu mengucapkan maaf setiap kali ada sesuatu di luar sana yang menyinggung. Itu cara terbaik untuk membuatnya bisa bekerja dengan tanpa rasa takut dan bersalah. Ya, aku akan memberikan itu semua, Yong...
Pasti.
"Aku mencintaimu."
"Aku juga, Yong..
Sangat mencintaimu..."
"Hanya kamu yang aku cintai, Hye... Jangan pernah merasa itu berubah, karena sampai kapan pun akan tetap seperti itu..."
"Nado..."
"Aku suka, sangat suka kalau kamu cemburu, tapi kalau sampai seperti itu, aku bisa gila. Aku hampir menelpon manager untuk melakukan perskon malam ini juga."
"Mianhae... Jeongmal mianhaeyo, Yong..
Aku salah..."
"Lalu..."
Ku lihat dia mulai tersenyum, ahh.. syukurlah dia bukan tipe orang pendendam dan suka marah berlama-lama. Pipi bulatnya sudah kembali.
"Hei.. Ny.Jung.. Kau belum menjawab pertanyaan suamimu ini.. Tidakkah kau kasihan kalau suamimu ini lagi-lagi harus memeluk guling karena sensitifmu belakangan ini sangat besar. Kamu tidak sedang banyak fikiran kan? Haruskah aku mengajukan sedikit barter dengan managermu? "
Aku baru sadar, beberapa hari ini aku memang sangat sensitif. Bahkan beberapa malam ini aku menolak dipeluknya, kenapa denganku?
"Hye.. kamu sakit? " tanyanya khawatir.
Aku pun langsung menggeleng pasti,
"Shinhye,ya..."
"Gwaenchana Yong.. Aku baik-baik saja, sungguh."
"Ok. Anggap kamu baik-baik saja. Sekarang jawab pertanyaanku tadi."
"Ehm.. Itu... Itu bukan hal sulit, aku akan memberikan semua yang kau mau. Semuanya."
"Jinjja?"
"Hmm..pasti itu..."
Dalam hitungan detik berikutnya tangannya sudah menarikku lebih dekat padanya, aku bahkan bisa merasakan terpaan hangat nafasnya di wajahku, dan saat bibirnya tinggal berjarak 1 cm lagi perutku tiba-tiba bergejolak. Ada sesuatu dari dalam sana yang berputar-putar tanpa henti, berjalan cepat ke atas sampai ke tenggorokan lagi dan refleks tanganku menutup mulut cepat-cepat.
"Hye..." panggilnya panik.
Kami saling berpandangan lama, diam, mencoba menjawab satu-satunya pertanyaan yang sama-sama menyita pikiran.
Dan tanpa dapat di cegah, butiran-butiran hangat itu kembali menetes.
"Gomawo, Hye... Gomawo... Saranghae... Jeongmal saranghae.. saranghada..." ucapnya parau dengan ledakan bunga-bunga cinta yang sekarang menjalari seluruh sel dalam tubuh.
"Saranghae, Hye..."
"Saranghae, Yong... Saranghae..."
--- Selesai ---
Haaiii...
Hehe..adakah yg ngira ini sad ending? Hehe..
Mianhae...
Sedikit jahil skli2 gpp kan..kkk~
Thanks all...

Cerita mu selalu keren author!
ReplyDeleteSuka banget..waahh akan ada baby YongShin...hihihi
haha..
Deletelucuu itu pasti.. kkk ~
gomawo...
Iya aku kira bakal berujung sad..tp akhirnya kebahagiaan trnyata.
ReplyDeletemembuatku salah menebak..keren!! Fighting tuk karya2 slanjutnya!!
Haha..
DeleteAku dulu juga di protes karena piku ff nya ga sesuai.. hahah..
gomawo..
Hohohohoho...
ReplyDeleteAku udh was was bacanya unnie.
Aku ketawa sendiri klo baca ff unnie, krn kalimat2 yg tertata rapih, kadang aku suka gak nyadar bahwa ada kalimat yg tentang ppoppo kkkk.
FF apa dulu yaa aku lupa wkqkqk,
Sampe aku baca ulang pas liat koment temen2 yg mbahas ppoppo,
Ok dech, gomawo and Fighting!!
Di tunggu ff berikutnya ^^
that winter yah Ji ? yg di bis itukan.. kkkk ~
Deletegomawo ...
kata² mu iniii uniii buat aku gimana gitu. cara bicara yonghwa tu lembut banget. akh aku sukaa... awalnya sedikit tertipu, awal baris tu mereka ribut, aku pikir masalah apa. ternyataa karna cemburu. hahah lucuu. hwaiting untuk ff selanjutnyaa unnn
ReplyDeleteHahah..
Deletegomawo atuh say..
Rara justru bingung, Hihihi,Pabo ra
ReplyDeleteBingung apanya ?? kkk ~
DeleteHhhhmmmmm happy ending,,, gk jd marah2 wis
ReplyDeleteHhhhmmmmm happy ending,,, gk jd marah2 wis
ReplyDeleteHhhhmmmmm happy ending,,, gk jd marah2 wis
ReplyDelete