Cant Stop (Part 3)
Author : Wangbie
Genre : Romance
Main Cast : Jung Yonghwa, Park Shinhye
Cast : Lee Jonghyun, Kim Soohyun, Lee Gyuwon
OC : Lee Na Bie, Han Je Hoo, Wang Eun Bie
This story is my mind, so don't bash me dan don't be plagiator. Arra!!!
Gomapseumnida... ^_^
Happy Reading...
---oOo---
Yonghwa berjalan santai menelusuri setiap jalanan di tribun untuk para penonton di dalam arena balap tempatnya dulu mengadu adrenalin, memperlihatkan setiap kemahirannya dalam membawa mobil berjalan cepat mengalahkan puluhan mobil di belakangnya dengan sebuah kepercayaan diri yang tinggi.
Percaya diri?
Itu poin terpenting disini, tanpa rasa percaya diri yang tinggi, tangan, kaki, dan fikiranmu saat melajukan mobil tidak akan membawamu ke dalam kemenangan. Karena perasaan takut yang mendominasi hanya akan membuat sebuah peluang emas hilang begitu saja.
Namja itu kini sekarang tengah menelisik setiap sudut tempat ini, mengingat setiap uforia yang meledak-ledak di saat bintang mereka mencapai satu titik di garis finish. Senang, bangga, dan seolah mendapatkan satu buah manggis raksasa, yang saat itu dapat dirasakan bersama. Manggis? Ya, manggis, buah dengan kulit tebal dan daging yang sedikit itu bisa membuat pecintanya seakan terbang jika mendapatkannya di tengah musim kelangkaan buah satu ini. Begitu juga dengan sebuah kemenangan di arena balap, itu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi sang bintang, dan menjadi sebuah kemenangan yang menggembirakan bagi sang penggemar.
"Ternyata seperti ini rasanya..." lirih Yonghwa pelan dengan senyuman kecil di bibirnya.
Kakinya bergerak terus, melewati setiap inci lantai marmer putih yang tampak bersih, sambil terus mengamati keadaan di sekelilingnya. Beberapa orang yang berada di sana, menatap Yonghwa dengan senang, dan mereka pun juga berharap sebentar lagi sang elang akan segera mengepakkan sayapnya lebar, terbang jauh dengan sebuah kekuatan yang tak terelakkan.
Yonghwa sedikit tersentak tak percaya saat ia tiba di salah satu kursi penonton di bagian pinggir depan. Ada satu stiker yang lumayan besar tertempel di punggung kursi. Stiker bertuliskan 'Hwaiting Jung Yonghwa' dan satu gambar dirinya di bagian atas. Membuat darahnya berdesir hebat, hingga tangannya bergetar kecil saat tangannya meraba pelan stiker yang sudah hampir rusak.
"Hwaiting Jung Yonghwa!! Kau yang terbaik!! Lets run!! Go..go..goo..." suara-suara yang dulu sering terdengar di telinganya tiba-tiba meraung-raung dengan cepatnya kembali ke hadapannya, seperti sebuah rol film jadul yang diputar ulang saat jaman sudah berubah.
"Bukankah kau Yonghwa? Jung Yonghwa?" Tanya namja tinggi yang baru saja hendak turun dari kursi atas penonton. Namja yang tak lain adalah Kim Soohyun itu pun segera terbelalak kaget, saat Yonghwa berbalik dan tersenyum ramah.
"Annyeonghaseo Soohyun ssi.. lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu? " sapa Yonghwa ramah.
"Eoh, ne.. ne.. Baik. Aku baik-baik saja. Apa yang kau la..kukan di..sini..? Tanya Soohyun sedikit tak percaya. Bagaimana mungkin Yonghwa di sini? Berdiri di sini? Sendirian?
"Aku rindu dengan tempat ini. Ingin sekali rasanya kembali lagi..." jawab Yonghwa senang.
"Nde? "
"Nde? Waeyo Soohyun ssi? Gwaenchana? " tanya Yonghwa khawatir.
"Nde? Oh.. ne.. ne.. gwaenchana.." jawab Soohyun singkat dan segera meninggalkan Yonghwa dengan ekspresi bingungnya melihat teman seperjuangannya yang semakin sukses. Ia yakin, temannya itu pasti sudah bekerja keras untuk ini.
"Hyungg!!!" Panggil Jonghyun semangat dari bawah tribun. Sebuah senyum lebar kini terpasang jelas di wajah namja tampan pemilik lesung pipi yang menggemaskan itu. Yonghwa melambaikan tangannya pelan ke arah Jonghyun dan menganggukkan kepalanya pelan saat Jonghyun menunjuk dirinya sendiri dan dirinya bergantian.
"Hyung!! Chukkae!! Kenapa tidak menelpon? Aku bisa mengantar Hyung ke sini.."
"Gwaenchana.. Aku bisa sendiri.. Lagian, aku tidak mau merepotkanmu lagi.. Gomawoyo Hyun ah.."
Jonghyun tersenyum lebar, lalu segera memeluk Yonghwa yang juga ikut tersenyum dengan cerianya saat ini.
"Shinjiieee!!!" Teriak dua yeoja dari pinggir jalan di seberang saat Shinhye berdiri tepat 10 cm jaraknya dari mobil yang melaju kencang setelah menabrak seorang yeoja yang hendak menyebrang.
"Eoh, Na.. Eun.." jawab Shinhye pelan sambil memegang dadanya karena terlalu kaget dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"Gwaenchana? Kajja kita ke pinggir dulu.." ajak yeoja berambut pirang yang bernama Lee Na Bie. Yeoja cantik yang menjadi sahabatnya di kampus. Dan yeoja di sebelahnya itu bernama Wang Eun Bie, kakak kelasnya yang juga seorang sahabat untuknya.
"Gwaenchanayo? Ada yang sakit? " tanya Na bie khawatir setelah mereka sampai di tepi jalan dan mengajak Shinhye duduk di bangku kosong di bawah pohon. Tempat yang tadinya digunakan yeoja yang tertabrak tadi dengan kekasihnya saling bertukar rasa sayang, sesaat sebelum sang yeoja mengalami kecelakaan.
"Kita ke dokter ne.." ajak Eun bie.
Shinhye tersenyum dan menggeleng sambil menatap kedua sahabatnya bergantian sebelum akhirnya memeluk mereka bersamaan. "Nan gwaenchana.."
"Ah.. Syukurlah.." ujar Na Bie dan Eun Bie bersamaan. Ketiga sahabat itu kini saling tersenyum dan mengeratkan pelukan mereka.
"Apa aku ketinggalan momen yang bagus? " tanya seorang namja tinggi dengan stylenya yang unik, rambut gondrong yang dipotong acak, sehingga membuat beberapa bagian rambutnya menghilang, terselip rapi di setiap bagian, dan perpaduan warna di beberapa bagian, membuatnya tampak lebih muda. Karena wajahnya yang cenderung lancip di bagian dagu, terekspos sempurna.
"Han Jee Hoo!!!!!!!" Pekik ketiga yeoja itu bersamaan.
"Han Jee Hoo!!!!"
"Iyaa, ini Han Jee Hoo, namja paling keren se-dunia yang berhasil mendapatkan apapun yang diinginkannya dalam waktu sekejab. Waeyo? Apa aku semakin tampan? " ujar Jee Hoo percaya diri. Bahkan ia mengangkat sedikit kerah baju di bagian kirinya agar lebih tegak.
"Kkyyaaaaa!!! Han Jee Hoo!!!!!" Teriak histeris beberapa yeoja di jalanan tak jauh dari mereka. Dan dalam sekejap, semua yeoja yang tadinya asyik dengan kegiatannya masing-masing sekarang berlarian menghampiri namja yang menjadi icon dunia, dan menyandang gelar The next Man.
"Sepertinya lebih baik kita pergi sebelum kita tidak bisa pulang secepatnya." Usul Eun Bie. Shinhye dan Na Bie segera mengangguk lalu bergegas berjalan sedikit cepat ke arah halte bus terdekat.
"Yyaa!! Kalian mau kemana, eoh? Aku datang untuk kalian! Yyaa!! Triangels!! Berhenti di sana!!" Teriak Jee Hoo kencang. Namun kumpulan yeoja yang semakin bertambah banyak mengerubunginya membuatnya harus membatalkan niatnya terlebih dahulu untuk mengejar tiga yeoja yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil.
"Oppa!! Minta tanda tangannya ya.."
"Oppa!! Kita berfoto dulu ya.."
"Oppa ke sini..."
"Oppa!!!"
Suara-suara penuh kebahagiaan dari yeoja di sana menggema begitu saja. Membuat seorang wartawan yang tak sengaja lewat segera mengabadikan momen bernilai tinggi ke dalam lensa kamera pocketnya.
Siapa yang tidak akan mau tahu tentang namja yang menjadi perhatian seluruh dunia semenjak statementnya 5 tahun lalu tentang mobil. Bukan hanya itu, latar belakang keluarganya yang memiliki tempat tinggi di jajarannya semakin mendukung aksinya. Dan tidak ada seorang pun yang bisa menolak kemauannya, tidak seorangpun.
"Dia sudah kembali ternyata, bagus! Teruslah seperti itu, dan buatlah aku melambung tinggi seperti kau mengangkat nama seorang namja biasa yang hingga detik ini menjadi halangan terbesarku. Bagus, teruslah seperti itu Han Jee Hoo.." ucap seorang namja dari dalam mobilnya yang sengaja memperhatikan gerak geriknya sejak tadi.
Seringaian tajam tergambar begitu saja dari wajahnya, ketika ide gila demi ide gila mulai merasuki fikirannya. Bahkan tatapan kejamnya dapat menembus kaca mata hitam yang dikenakannya saat ini. Menghancurkan lapisan demi lapisan kaca tebal di sana dan membuatnya menjadi ribuan serpihan kecil tajam yang siap menghantam siapa saja yang melintas di depannya.
"Jalan pak.."
"Hyung.. Gwaenchana? Apa sakit? " tanya Jonghyun khawatir saat Yonghwa meringis kecil sambil memegang kakinya erat.
"Aniyo.. Hanya kram sedikit. Masih kaku, tapi tidak apa-apa. Hanya butuh waktu.."
"Aku ambilkan kompres dulu ne.. Sekalian membawa makan malam kita kesini.."
"Jangan. Kita turun saja.." tolak Yonghwa cepat. Ia tidak mau kedua orang tuanya khawatir lagi. Walaupun ia sendiri tidak yakin akan kuat menahan nyeri di kedua kakinya. Tapi setidaknya untuk 30 menit ke depan ia bisa.
"Tapi Hyung.. Nanti kalau kaki Hyung sema..."
"Annyeonghaseo... Aku datang.." sapa Shinhye di depan pintu masuk kamar Yonghwa dengan satu nampan berisi beberapa piring makanan.
"Eoh, kau sudah datang? " jawab Jonghyun sembari berdiri dan mengambil nampan dari tangan Shinhye, meletakkannya di meja tak jauh dari tempat tidur.
"Chukkae! Akhirnya sebentar lagi kita bisa bekejar kejaran lagi. Aku sudah tidak sabar menunggu itu, Yong-hwa.."
"Gomawo.." jawab Yonghwa singkat dan segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Menghindari tatapan Shinhye yang membuat seluruh tubuhnya bergetar.
"Aku keluar dulu ne, piring kita kurang satu.." pamit Jonghyun cepat. Namun segera ditahan oleh tangan kekar di belakangnya.
"Biar aku yang mengambilnya. Kalian tamuku, jadi sudah seharusnya aku yang menyiapkan.." kata Yonghwa tegas.
"Aku saja Yong yang meng..."
"Gwaenchanayo.. kalian tunggu saja di sini.." potong Yonghwa cepat saat Shinhye juga mendeklarasikan keinginannya.
Yonghwa berjalan cepat keluar kamar, tidak menghiraukan rasa sakit yang kian menjalar di kakinya. Menutup pintu kamarnya sedikit keras lalu menyandarkan punggungnya ke pintu pelan. Tak dirasakannya bahwa setetes air mata turun membasahi pipi.
"Yong.. Gwaenchana? Kenapa di luar? Ini eomma membawa piring dan minuman untuk kalian..." ujar Nyonya Jung sedikit khawatir melihat raut muka putranya sedikit muram.
"Gwaenchanayo Eomma. Yong ingin mengambil jus di dapur."
"Biar eomma yang membawanya ke sini.."
"Aniyo.. Biar Yonghwa saja. Eomma letakkan saja dulu di sini, nanti biar Yonghwa bawa masuk. Tadi Appa mencari Eomma.." bohong Yonghwa.
Nyonya Jung mengernyitkan keningnya sedikit karena perkataan putranya yang sedikit ganjal. Kenapa? Ada apa?
"Eomma.."
"Ne.. Ne.. Mian, eomma sedikit lelah," jawabnya gugup.
"Ayo Yonghwa antar ke kamar.."
"Tidak perlu, cepat ambil jusmu dan makanlah. Jonghyun dan Shinhye pasti sudah lapar.."
"Ne eomma.."
Nyonya Jung memeluk putranya sejenak sebelum berlalu meninggalkan Yonghwa. Rasa penasaran yang semakin membuncah semakin besar rasanya, karena degupan jantung Yonghwa yang kencang sewaktu dipeluknya tadi. Sementara Yonghwa kembali menyandarkan punggungnya ke pintu dan menatap nampan yang dibawa ibunya tadi dengan pandangan sayu.
"Eotteohke? Kenapa aku tidak bisa menghentikan semua ini? Kenapa? " lirihnya.
Yonghwa pov
Rasanya sakit, entah kenapa tiba-tiba sakit saat melihat gadis kecilku tersenyum seperti itu pada orang lain. Ah, lebih tepatnya namja lain. Cemburu?
Oh jangan gila Jung Yonghwa, Shinhye bukan gadis kecilmu lagi, sebentar lagi dia akan menikah dengan Jonghyun, namja baik yang sudah membantumu bangkit di saat yang tepat. Apa kau tidak tahu terima kasih?
Tapi, sungguh. Sakit sekali di sini. Apa yang harus aku lakukan?
Haruskah aku merebutnya?
Bodoh! Itu bodoh! Dan aku tidak mau melakukannya.
Lalu?
Diam?
Memendam semuanya sendiri?
Tidakkah kau ingat saat dulu kita tersenyum bersama di dalam gudang sekolah, Hye? Saat pertama kalinya kau memanggilku 'Oppa'? Tidakkah kau ingat itu? Tidakkah kau ingat janji kita dulu?
Flashback
"Tolong!! Tolong!!" Teriak dua orang anak kecil yang masih mengenakan seragam SD-nya dari dalam ruangan gelap berisi barang-barang yang sudah tak terpakai.
"Oppa!! Eotteohke? Eotteohke kalau kita tidak bisa pulang malam ini? Eomma dan Appa pasti khawatir..."
Yonghwa menoleh cepat, menatap wajah panik di sampingnya dengan cahaya yang terbatas. Terlihat jelas bagaimana takutnya ia saat ini.
"Oppa!!!" Panggil Shinhye lebih keras karena yang dipanggilnya malah bengong sambil menatapnya intens.
"Coba ulangi.." pinta Yonghwa pelan. Shinhye mengernyitkan dahinya keras, bingung dengan maksud ucapan Yonghwa barusan.
"Ulangi... Tadi kau memanggilku apa? Op--pa? " jelas Yonghwa yang tahu kebingungan gadis kecil di sampingnya saat ini.
Kini gantian Shinhye yang bengong, mulutnya sedikit terbuka karena kaget. Ya, amat sangat kaget, karena dirinya sendiri tidak sadar memanggil namja di sampingnya dengan panggilan Op-pa? Panggilan yang diinginkan oleh namja itu sendiri, tapi tak dihiraukannya. Bukan karena apa-apa, tapi rasanya sedikit aneh dan ia malu.
Malu?
Hei kenapa dengannya? Kenapa harus malu pada memanggil Oppa pada kakak sendiri? Bukankah itu hal yang wajar?
"Hye... Shinhye ya.. yyaa!! Jung Shinhye!!" Panggil Yonghwa kencang. Membuat Shinhye semakin membelalakkan matanya lebar mendengar sebuah nama yang baru didengarnya. Begitu juga Yonghwa, ia sendiri tidak tahu kenapa ia bisa memanggil Shinhye dengan marganya sendiri.
"Eoh, lupakan..." ujar Yonghwa cepat dan kembali sibuk mengutak atik pintu di depannya agar segera keluar dari gudang sekolahnya.
"Op-pa... Op-pa..." panggil Shinhye pelan sambil menunduk malu.
Yonghwa tersenyum, dan kembali mengutak atik pintu sembari berkata, "Mulai sekarang, hanya aku yang boleh kau panggil Oppa. Dan hanya 'Jung' satu-satunya marga yang menggantikan 'Park' saat kau dewasa.."
Shinhye mengangguk tanpa berani menatap namja di sampingnya yang juga menunduk malu. Curi-curi pandang yang mereka lakukan membuat keduanya semakin menunduk dan tersenyum. Berteriak kencang dengan hati mereka, dan menyatakan janji mereka lewat pandangan mata yang sering saling tumpang tindih saat bertemu.
Flashback end
"Tidakkah itu kau ingat? " lirih Yonghwa sekali lagi.
Nyonya Jung yang sedari tadi sengaja bersembunyi di balik tembok tersenyum simpul. Karena akhirnya ia tahu apa yang membuat putranya seperti itu.
"Sabarlah Yong.. Semua akan kembali seperti semula.."
"Bagaimana? " tanya Tuan Jung pada dua orang di depannya yang berdiri tegak dengan raut wajah serius. Salah seorang diantaranya menyerahkan sebuah map yang diterima oleh boss mereka dengan kening yang sedikit berkerut.
"Data-data orang yang anda cari ada di sini. Kami sudah menyelidiki semuanya, dan kami sudah memastikan semua akurat." Jelas seorang lainnya dengan nada yang lugas.
Tuan Jung mengangguk kecil sembari membuka lembar demi lembar kertas putih yang tertata rapi di dalam map. Sorot matanya tajam, meneliti satu demi satu kata agar tak ada satu kata pun yang tertinggal. Karena apa yang tersirat dari sini, akan memutuskan tindakan final apa yang harus dilakukannya untuk ke depannya. Ia tidak mau salah mengambil sikap, karena pasti keputusannya akan menghancurkan seseorang.
"Bawa dia ke sini secepatnya. Dan jangan sampai Yonghwa tahu. Kalian mengerti? " perintah Tuan Jung setelah menutup dan memasukkan map yang dibacanya ke dalam laci pribadinya. Kedua orang suruhannya hanya mengangguk dan segera pergi untuk menjalankan tugas mereka. Tugas terberat yang pernah mereka lakukan selama ini. Karena pasti akan sangat sulit membawa seorang pembalap motor yang tengah disanjung tanpa sepengetahuan siapapun, apalagi tanpa sepengetahuan Yonghwa. Itu sangat sulit. Karena mereka sering terlihat bersama dalam setiap kesempatan.
"Lee Jonghyun. Kenapa kau melakukan itu? " geram Tuan Jung tertahan setelah pintu ruangannya tertutup. Diliriknya sebuah tabloid jadul yang masih disimpannya rapi di sisi kanan meja. Hanya sedikit yang terlihat dari gambar covernya, karena memang tabloid itu ditumpuk bersama tabloid baru yang sengaja dikoleksinya untuk membaca dan membaca lagi berita yang tertulis di sana. Apalagi kalau bukan berita tentang anak semata wayangnya, Jung Yonghwa.
"Tunggu saja, aku tidak akan membiarkanmu terus menyakiti anakku. Aku pastikan itu. Pasti!!"
Tok tok tok...
"Ne... Changkamman.."
Tok Tok Tok...
"Nee...Jee Hoo!???" Pekik Eun Bie tertahan. Na Bie yang mendengar kakaknya menyebut nama Jee Hoo segera berlari ke pintu dan ikut terkejut saat seorang namja tinggi itu kini sudah berada di depan rumah mereka sambil menenteng beberapa kantong plastik di tangan kirinya.
"Apa kalian tidak mau menyuruhku masuk? " tanya Jee Hoo kesal. Sungguh hari ini sangat melelahkan untuknya. Setelah seharian ia mengurusi para fans yang tiba-tiba datang mengerumuninya, hingga harus melakukan wawancara dadakan dengan salah satu stasiun televisi yang melihatnya tadi.
"Yyaa!!! Kenapa kalian malah bengong? " tanyanya lagi dengan kekesalan yang semakin meningkat.
"Eoh.. Mian.. Kajja masuk.." jawab Eun Bie sambil menyeret adiknya ke dalam, membiarkan tamu tak diundangnya masuk sendiri dengan barang bawaannya yang sedikit merepotkan untuknya.
"Dimana Shinhye? Kenapa dia tidak ada? " tanya Jee Hoo setelah meletakkan barangnya ke atas meja dan mengeluarkannya satu persatu.
"Yyaa!! Han Jee Hoo, kenapa kau keluarkan? Kami baru selesai bersih-bersih.." protes Na Bie setelah menguasai emosinya kembali.
"Aku datang kesini karena ingin sekali bersama kalian. Aku rindu momen seperti ini. Dan kali ini aku yang masak. Kalian duduk manis saja dan tunggu hasilnya."
"Hei.. Telingamu kemana? Aku tidak bertanya sesuai dengan jawabanmu.." kini Eun Bie ikut menyuarakan protesnya.
"Tadi ada orang yang memberikan alamat kalian kepadaku begitu saja. Tapi aku tidak tahu siapa dia."
"Yyaaa!!! Han Jee Hoo!!!!"
Jee Hoo segera berbalik ke belakang, menghadap dua yeoja yang kini menatapnya dengan tatapan marah dan bingung. "Mianhae ..."
Eun Bie dan Na Bie segera menarik tangan Jee Hoo kanan dan kirinya bersamaan, menuju ruang santai mereka, dan memeluknya bersamaan.
"Bogoshipeo uri girrafe..." ucap kedua yeoja itu bersamaan. Jee Hoo yang tadinya bingung dengan apa yang akan dilakukan dua sahabatnya ini sekarang menghembuskan nafasnya lega, karena tadinya ia sangat takut, kalau mereka akan mengusirnya kalau sampai datang bertamu malam-malam.
"Mianhae bibi.." sesal Jee Hoo dalam. Hari ini semuanya tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Shinhye tidak ada, acara lunch di tepi pantai bersama sahabatnya gagal. Ditambah lagi ia harus melakukan fanmet dadakan. Dan malam ini, ia ingin makan malam bersama sahabatnya. Menetralisir kegundahan hatinya yang selalu membuat kepalanya serasa mau pecah setiap saatnya.
"Ayo, ceritakan dulu, kita mulai dari kenapa tiba-tiba kau datang tanpa pemberitahuan siang tadi." Pinta Eun Bie langsung. Na Bie menyodorkan satu gelas air putih pada Jee Hoo sebelum Jee Hoo membuka mulutnya, memjawab pertanyaan kakaknya yang ia sendiri juga sangat penasaran. Untuk apa Jee Hoo datang ke muka umum tanpa memberi tahu mereka sebelumnya. Jee Hoo paling benci harus bersusah payah, apalagi harus fanmet dadakan seperti tadi. Walaupun mereka tidak melihat, tapi semuanya pasti seperti yang difikirkannya.
"Gomawo Na Bie ah..."
"Sudah, cepat jawab!" Potong Eun Bie cepat. Na Mie menyenggol bahu kakaknya pelan dan melebarkan mata sipitnya. Tapi rupanya kakaknya ini tak menghiraukan instruksinya, malah terus menatap namja yang memasang wajah polosnya.
"Dua hari lalu, managerku bilang, kalau hari ini ada acara besar di kampus kalian. Dan banyak pembalap yang hadir, karena aku sangat tertarik, aku datang..."
"Kenapa tidak memberi tahu kami terlebih dahulu? " tanya Na Bie lembut. Sementara Eun Bie masih kekeuh dengan tampang dinginnya. Bahkan waktu ia berteriak dan memeluk sahabat kecilnya ini, ada rasa tak tenang dari hatinya.
"Aku ingin memberikan surprise pada kalian..."
"Lalu? Kenapa tidak ikut lari bersama kami tadi? Bukankah kamu sangat benci dengan semua hal yang serba dadakan? " tanya Eun Bie keras.
Duukkk!!!!!
Eun Bie dan Na Bie terjatuh begitu saja setelah batangan kayu menghantam punggung mereka. Seorang namja putih yang berdiri di belakangnya hanya tersenyum kecut menatap dua yeoja yang kini tak berdaya, dan seorang namja yang hanya tertunduk lemas, melihat temannya tak berdaya.
"Bagus Jee Hoo ssi.. tidak sia-sia aku membayar mahal managermu untuk ini. Jangan menyesal, Aku, Lee Jonghyun, bisa melakukan apapun yang bisa membuat karirmu semakin naik. Kau ingat itu? " ucap namja yang tak lain adalah Jonghyun itu dengan ekspresi dinginnya.
"Cepat bawa mereka, sebelum yang lain datang. Ingat, jangan sebut namaku di depan Soohyun hyung jika ia bertanya. Arra.."
"Ne.." jawab Jee Hoo lemah.
Percaya diri?
Itu poin terpenting disini, tanpa rasa percaya diri yang tinggi, tangan, kaki, dan fikiranmu saat melajukan mobil tidak akan membawamu ke dalam kemenangan. Karena perasaan takut yang mendominasi hanya akan membuat sebuah peluang emas hilang begitu saja.
Namja itu kini sekarang tengah menelisik setiap sudut tempat ini, mengingat setiap uforia yang meledak-ledak di saat bintang mereka mencapai satu titik di garis finish. Senang, bangga, dan seolah mendapatkan satu buah manggis raksasa, yang saat itu dapat dirasakan bersama. Manggis? Ya, manggis, buah dengan kulit tebal dan daging yang sedikit itu bisa membuat pecintanya seakan terbang jika mendapatkannya di tengah musim kelangkaan buah satu ini. Begitu juga dengan sebuah kemenangan di arena balap, itu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi sang bintang, dan menjadi sebuah kemenangan yang menggembirakan bagi sang penggemar.
"Ternyata seperti ini rasanya..." lirih Yonghwa pelan dengan senyuman kecil di bibirnya.
Kakinya bergerak terus, melewati setiap inci lantai marmer putih yang tampak bersih, sambil terus mengamati keadaan di sekelilingnya. Beberapa orang yang berada di sana, menatap Yonghwa dengan senang, dan mereka pun juga berharap sebentar lagi sang elang akan segera mengepakkan sayapnya lebar, terbang jauh dengan sebuah kekuatan yang tak terelakkan.
Yonghwa sedikit tersentak tak percaya saat ia tiba di salah satu kursi penonton di bagian pinggir depan. Ada satu stiker yang lumayan besar tertempel di punggung kursi. Stiker bertuliskan 'Hwaiting Jung Yonghwa' dan satu gambar dirinya di bagian atas. Membuat darahnya berdesir hebat, hingga tangannya bergetar kecil saat tangannya meraba pelan stiker yang sudah hampir rusak.
"Hwaiting Jung Yonghwa!! Kau yang terbaik!! Lets run!! Go..go..goo..." suara-suara yang dulu sering terdengar di telinganya tiba-tiba meraung-raung dengan cepatnya kembali ke hadapannya, seperti sebuah rol film jadul yang diputar ulang saat jaman sudah berubah.
"Bukankah kau Yonghwa? Jung Yonghwa?" Tanya namja tinggi yang baru saja hendak turun dari kursi atas penonton. Namja yang tak lain adalah Kim Soohyun itu pun segera terbelalak kaget, saat Yonghwa berbalik dan tersenyum ramah.
"Annyeonghaseo Soohyun ssi.. lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu? " sapa Yonghwa ramah.
"Eoh, ne.. ne.. Baik. Aku baik-baik saja. Apa yang kau la..kukan di..sini..? Tanya Soohyun sedikit tak percaya. Bagaimana mungkin Yonghwa di sini? Berdiri di sini? Sendirian?
"Aku rindu dengan tempat ini. Ingin sekali rasanya kembali lagi..." jawab Yonghwa senang.
"Nde? "
"Nde? Waeyo Soohyun ssi? Gwaenchana? " tanya Yonghwa khawatir.
"Nde? Oh.. ne.. ne.. gwaenchana.." jawab Soohyun singkat dan segera meninggalkan Yonghwa dengan ekspresi bingungnya melihat teman seperjuangannya yang semakin sukses. Ia yakin, temannya itu pasti sudah bekerja keras untuk ini.
"Hyungg!!!" Panggil Jonghyun semangat dari bawah tribun. Sebuah senyum lebar kini terpasang jelas di wajah namja tampan pemilik lesung pipi yang menggemaskan itu. Yonghwa melambaikan tangannya pelan ke arah Jonghyun dan menganggukkan kepalanya pelan saat Jonghyun menunjuk dirinya sendiri dan dirinya bergantian.
"Hyung!! Chukkae!! Kenapa tidak menelpon? Aku bisa mengantar Hyung ke sini.."
"Gwaenchana.. Aku bisa sendiri.. Lagian, aku tidak mau merepotkanmu lagi.. Gomawoyo Hyun ah.."
Jonghyun tersenyum lebar, lalu segera memeluk Yonghwa yang juga ikut tersenyum dengan cerianya saat ini.
---oOo---
"Shinjiieee!!!" Teriak dua yeoja dari pinggir jalan di seberang saat Shinhye berdiri tepat 10 cm jaraknya dari mobil yang melaju kencang setelah menabrak seorang yeoja yang hendak menyebrang.
"Eoh, Na.. Eun.." jawab Shinhye pelan sambil memegang dadanya karena terlalu kaget dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"Gwaenchana? Kajja kita ke pinggir dulu.." ajak yeoja berambut pirang yang bernama Lee Na Bie. Yeoja cantik yang menjadi sahabatnya di kampus. Dan yeoja di sebelahnya itu bernama Wang Eun Bie, kakak kelasnya yang juga seorang sahabat untuknya.
"Gwaenchanayo? Ada yang sakit? " tanya Na bie khawatir setelah mereka sampai di tepi jalan dan mengajak Shinhye duduk di bangku kosong di bawah pohon. Tempat yang tadinya digunakan yeoja yang tertabrak tadi dengan kekasihnya saling bertukar rasa sayang, sesaat sebelum sang yeoja mengalami kecelakaan.
"Kita ke dokter ne.." ajak Eun bie.
Shinhye tersenyum dan menggeleng sambil menatap kedua sahabatnya bergantian sebelum akhirnya memeluk mereka bersamaan. "Nan gwaenchana.."
"Ah.. Syukurlah.." ujar Na Bie dan Eun Bie bersamaan. Ketiga sahabat itu kini saling tersenyum dan mengeratkan pelukan mereka.
"Apa aku ketinggalan momen yang bagus? " tanya seorang namja tinggi dengan stylenya yang unik, rambut gondrong yang dipotong acak, sehingga membuat beberapa bagian rambutnya menghilang, terselip rapi di setiap bagian, dan perpaduan warna di beberapa bagian, membuatnya tampak lebih muda. Karena wajahnya yang cenderung lancip di bagian dagu, terekspos sempurna.
"Han Jee Hoo!!!!!!!" Pekik ketiga yeoja itu bersamaan.
"Han Jee Hoo!!!!"
"Iyaa, ini Han Jee Hoo, namja paling keren se-dunia yang berhasil mendapatkan apapun yang diinginkannya dalam waktu sekejab. Waeyo? Apa aku semakin tampan? " ujar Jee Hoo percaya diri. Bahkan ia mengangkat sedikit kerah baju di bagian kirinya agar lebih tegak.
"Kkyyaaaaa!!! Han Jee Hoo!!!!!" Teriak histeris beberapa yeoja di jalanan tak jauh dari mereka. Dan dalam sekejap, semua yeoja yang tadinya asyik dengan kegiatannya masing-masing sekarang berlarian menghampiri namja yang menjadi icon dunia, dan menyandang gelar The next Man.
"Sepertinya lebih baik kita pergi sebelum kita tidak bisa pulang secepatnya." Usul Eun Bie. Shinhye dan Na Bie segera mengangguk lalu bergegas berjalan sedikit cepat ke arah halte bus terdekat.
"Yyaa!! Kalian mau kemana, eoh? Aku datang untuk kalian! Yyaa!! Triangels!! Berhenti di sana!!" Teriak Jee Hoo kencang. Namun kumpulan yeoja yang semakin bertambah banyak mengerubunginya membuatnya harus membatalkan niatnya terlebih dahulu untuk mengejar tiga yeoja yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil.
"Oppa!! Minta tanda tangannya ya.."
"Oppa!! Kita berfoto dulu ya.."
"Oppa ke sini..."
"Oppa!!!"
Suara-suara penuh kebahagiaan dari yeoja di sana menggema begitu saja. Membuat seorang wartawan yang tak sengaja lewat segera mengabadikan momen bernilai tinggi ke dalam lensa kamera pocketnya.
Siapa yang tidak akan mau tahu tentang namja yang menjadi perhatian seluruh dunia semenjak statementnya 5 tahun lalu tentang mobil. Bukan hanya itu, latar belakang keluarganya yang memiliki tempat tinggi di jajarannya semakin mendukung aksinya. Dan tidak ada seorang pun yang bisa menolak kemauannya, tidak seorangpun.
"Dia sudah kembali ternyata, bagus! Teruslah seperti itu, dan buatlah aku melambung tinggi seperti kau mengangkat nama seorang namja biasa yang hingga detik ini menjadi halangan terbesarku. Bagus, teruslah seperti itu Han Jee Hoo.." ucap seorang namja dari dalam mobilnya yang sengaja memperhatikan gerak geriknya sejak tadi.
Seringaian tajam tergambar begitu saja dari wajahnya, ketika ide gila demi ide gila mulai merasuki fikirannya. Bahkan tatapan kejamnya dapat menembus kaca mata hitam yang dikenakannya saat ini. Menghancurkan lapisan demi lapisan kaca tebal di sana dan membuatnya menjadi ribuan serpihan kecil tajam yang siap menghantam siapa saja yang melintas di depannya.
"Jalan pak.."
---oOo---
"Hyung.. Gwaenchana? Apa sakit? " tanya Jonghyun khawatir saat Yonghwa meringis kecil sambil memegang kakinya erat.
"Aniyo.. Hanya kram sedikit. Masih kaku, tapi tidak apa-apa. Hanya butuh waktu.."
"Aku ambilkan kompres dulu ne.. Sekalian membawa makan malam kita kesini.."
"Jangan. Kita turun saja.." tolak Yonghwa cepat. Ia tidak mau kedua orang tuanya khawatir lagi. Walaupun ia sendiri tidak yakin akan kuat menahan nyeri di kedua kakinya. Tapi setidaknya untuk 30 menit ke depan ia bisa.
"Tapi Hyung.. Nanti kalau kaki Hyung sema..."
"Annyeonghaseo... Aku datang.." sapa Shinhye di depan pintu masuk kamar Yonghwa dengan satu nampan berisi beberapa piring makanan.
"Eoh, kau sudah datang? " jawab Jonghyun sembari berdiri dan mengambil nampan dari tangan Shinhye, meletakkannya di meja tak jauh dari tempat tidur.
"Chukkae! Akhirnya sebentar lagi kita bisa bekejar kejaran lagi. Aku sudah tidak sabar menunggu itu, Yong-hwa.."
"Gomawo.." jawab Yonghwa singkat dan segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Menghindari tatapan Shinhye yang membuat seluruh tubuhnya bergetar.
"Aku keluar dulu ne, piring kita kurang satu.." pamit Jonghyun cepat. Namun segera ditahan oleh tangan kekar di belakangnya.
"Biar aku yang mengambilnya. Kalian tamuku, jadi sudah seharusnya aku yang menyiapkan.." kata Yonghwa tegas.
"Aku saja Yong yang meng..."
"Gwaenchanayo.. kalian tunggu saja di sini.." potong Yonghwa cepat saat Shinhye juga mendeklarasikan keinginannya.
Yonghwa berjalan cepat keluar kamar, tidak menghiraukan rasa sakit yang kian menjalar di kakinya. Menutup pintu kamarnya sedikit keras lalu menyandarkan punggungnya ke pintu pelan. Tak dirasakannya bahwa setetes air mata turun membasahi pipi.
"Yong.. Gwaenchana? Kenapa di luar? Ini eomma membawa piring dan minuman untuk kalian..." ujar Nyonya Jung sedikit khawatir melihat raut muka putranya sedikit muram.
"Gwaenchanayo Eomma. Yong ingin mengambil jus di dapur."
"Biar eomma yang membawanya ke sini.."
"Aniyo.. Biar Yonghwa saja. Eomma letakkan saja dulu di sini, nanti biar Yonghwa bawa masuk. Tadi Appa mencari Eomma.." bohong Yonghwa.
Nyonya Jung mengernyitkan keningnya sedikit karena perkataan putranya yang sedikit ganjal. Kenapa? Ada apa?
"Eomma.."
"Ne.. Ne.. Mian, eomma sedikit lelah," jawabnya gugup.
"Ayo Yonghwa antar ke kamar.."
"Tidak perlu, cepat ambil jusmu dan makanlah. Jonghyun dan Shinhye pasti sudah lapar.."
"Ne eomma.."
Nyonya Jung memeluk putranya sejenak sebelum berlalu meninggalkan Yonghwa. Rasa penasaran yang semakin membuncah semakin besar rasanya, karena degupan jantung Yonghwa yang kencang sewaktu dipeluknya tadi. Sementara Yonghwa kembali menyandarkan punggungnya ke pintu dan menatap nampan yang dibawa ibunya tadi dengan pandangan sayu.
"Eotteohke? Kenapa aku tidak bisa menghentikan semua ini? Kenapa? " lirihnya.
Yonghwa pov
Rasanya sakit, entah kenapa tiba-tiba sakit saat melihat gadis kecilku tersenyum seperti itu pada orang lain. Ah, lebih tepatnya namja lain. Cemburu?
Oh jangan gila Jung Yonghwa, Shinhye bukan gadis kecilmu lagi, sebentar lagi dia akan menikah dengan Jonghyun, namja baik yang sudah membantumu bangkit di saat yang tepat. Apa kau tidak tahu terima kasih?
Tapi, sungguh. Sakit sekali di sini. Apa yang harus aku lakukan?
Haruskah aku merebutnya?
Bodoh! Itu bodoh! Dan aku tidak mau melakukannya.
Lalu?
Diam?
Memendam semuanya sendiri?
Tidakkah kau ingat saat dulu kita tersenyum bersama di dalam gudang sekolah, Hye? Saat pertama kalinya kau memanggilku 'Oppa'? Tidakkah kau ingat itu? Tidakkah kau ingat janji kita dulu?
Flashback
"Tolong!! Tolong!!" Teriak dua orang anak kecil yang masih mengenakan seragam SD-nya dari dalam ruangan gelap berisi barang-barang yang sudah tak terpakai.
"Oppa!! Eotteohke? Eotteohke kalau kita tidak bisa pulang malam ini? Eomma dan Appa pasti khawatir..."
Yonghwa menoleh cepat, menatap wajah panik di sampingnya dengan cahaya yang terbatas. Terlihat jelas bagaimana takutnya ia saat ini.
"Oppa!!!" Panggil Shinhye lebih keras karena yang dipanggilnya malah bengong sambil menatapnya intens.
"Coba ulangi.." pinta Yonghwa pelan. Shinhye mengernyitkan dahinya keras, bingung dengan maksud ucapan Yonghwa barusan.
"Ulangi... Tadi kau memanggilku apa? Op--pa? " jelas Yonghwa yang tahu kebingungan gadis kecil di sampingnya saat ini.
Kini gantian Shinhye yang bengong, mulutnya sedikit terbuka karena kaget. Ya, amat sangat kaget, karena dirinya sendiri tidak sadar memanggil namja di sampingnya dengan panggilan Op-pa? Panggilan yang diinginkan oleh namja itu sendiri, tapi tak dihiraukannya. Bukan karena apa-apa, tapi rasanya sedikit aneh dan ia malu.
Malu?
Hei kenapa dengannya? Kenapa harus malu pada memanggil Oppa pada kakak sendiri? Bukankah itu hal yang wajar?
"Hye... Shinhye ya.. yyaa!! Jung Shinhye!!" Panggil Yonghwa kencang. Membuat Shinhye semakin membelalakkan matanya lebar mendengar sebuah nama yang baru didengarnya. Begitu juga Yonghwa, ia sendiri tidak tahu kenapa ia bisa memanggil Shinhye dengan marganya sendiri.
"Eoh, lupakan..." ujar Yonghwa cepat dan kembali sibuk mengutak atik pintu di depannya agar segera keluar dari gudang sekolahnya.
"Op-pa... Op-pa..." panggil Shinhye pelan sambil menunduk malu.
Yonghwa tersenyum, dan kembali mengutak atik pintu sembari berkata, "Mulai sekarang, hanya aku yang boleh kau panggil Oppa. Dan hanya 'Jung' satu-satunya marga yang menggantikan 'Park' saat kau dewasa.."
Shinhye mengangguk tanpa berani menatap namja di sampingnya yang juga menunduk malu. Curi-curi pandang yang mereka lakukan membuat keduanya semakin menunduk dan tersenyum. Berteriak kencang dengan hati mereka, dan menyatakan janji mereka lewat pandangan mata yang sering saling tumpang tindih saat bertemu.
Flashback end
"Tidakkah itu kau ingat? " lirih Yonghwa sekali lagi.
Nyonya Jung yang sedari tadi sengaja bersembunyi di balik tembok tersenyum simpul. Karena akhirnya ia tahu apa yang membuat putranya seperti itu.
"Sabarlah Yong.. Semua akan kembali seperti semula.."
---oOo---
"Bagaimana? " tanya Tuan Jung pada dua orang di depannya yang berdiri tegak dengan raut wajah serius. Salah seorang diantaranya menyerahkan sebuah map yang diterima oleh boss mereka dengan kening yang sedikit berkerut.
"Data-data orang yang anda cari ada di sini. Kami sudah menyelidiki semuanya, dan kami sudah memastikan semua akurat." Jelas seorang lainnya dengan nada yang lugas.
Tuan Jung mengangguk kecil sembari membuka lembar demi lembar kertas putih yang tertata rapi di dalam map. Sorot matanya tajam, meneliti satu demi satu kata agar tak ada satu kata pun yang tertinggal. Karena apa yang tersirat dari sini, akan memutuskan tindakan final apa yang harus dilakukannya untuk ke depannya. Ia tidak mau salah mengambil sikap, karena pasti keputusannya akan menghancurkan seseorang.
"Bawa dia ke sini secepatnya. Dan jangan sampai Yonghwa tahu. Kalian mengerti? " perintah Tuan Jung setelah menutup dan memasukkan map yang dibacanya ke dalam laci pribadinya. Kedua orang suruhannya hanya mengangguk dan segera pergi untuk menjalankan tugas mereka. Tugas terberat yang pernah mereka lakukan selama ini. Karena pasti akan sangat sulit membawa seorang pembalap motor yang tengah disanjung tanpa sepengetahuan siapapun, apalagi tanpa sepengetahuan Yonghwa. Itu sangat sulit. Karena mereka sering terlihat bersama dalam setiap kesempatan.
"Lee Jonghyun. Kenapa kau melakukan itu? " geram Tuan Jung tertahan setelah pintu ruangannya tertutup. Diliriknya sebuah tabloid jadul yang masih disimpannya rapi di sisi kanan meja. Hanya sedikit yang terlihat dari gambar covernya, karena memang tabloid itu ditumpuk bersama tabloid baru yang sengaja dikoleksinya untuk membaca dan membaca lagi berita yang tertulis di sana. Apalagi kalau bukan berita tentang anak semata wayangnya, Jung Yonghwa.
"Tunggu saja, aku tidak akan membiarkanmu terus menyakiti anakku. Aku pastikan itu. Pasti!!"
---oOo---
Tok tok tok...
"Ne... Changkamman.."
Tok Tok Tok...
"Nee...Jee Hoo!???" Pekik Eun Bie tertahan. Na Bie yang mendengar kakaknya menyebut nama Jee Hoo segera berlari ke pintu dan ikut terkejut saat seorang namja tinggi itu kini sudah berada di depan rumah mereka sambil menenteng beberapa kantong plastik di tangan kirinya.
"Apa kalian tidak mau menyuruhku masuk? " tanya Jee Hoo kesal. Sungguh hari ini sangat melelahkan untuknya. Setelah seharian ia mengurusi para fans yang tiba-tiba datang mengerumuninya, hingga harus melakukan wawancara dadakan dengan salah satu stasiun televisi yang melihatnya tadi.
"Yyaa!!! Kenapa kalian malah bengong? " tanyanya lagi dengan kekesalan yang semakin meningkat.
"Eoh.. Mian.. Kajja masuk.." jawab Eun Bie sambil menyeret adiknya ke dalam, membiarkan tamu tak diundangnya masuk sendiri dengan barang bawaannya yang sedikit merepotkan untuknya.
"Dimana Shinhye? Kenapa dia tidak ada? " tanya Jee Hoo setelah meletakkan barangnya ke atas meja dan mengeluarkannya satu persatu.
"Yyaa!! Han Jee Hoo, kenapa kau keluarkan? Kami baru selesai bersih-bersih.." protes Na Bie setelah menguasai emosinya kembali.
"Aku datang kesini karena ingin sekali bersama kalian. Aku rindu momen seperti ini. Dan kali ini aku yang masak. Kalian duduk manis saja dan tunggu hasilnya."
"Hei.. Telingamu kemana? Aku tidak bertanya sesuai dengan jawabanmu.." kini Eun Bie ikut menyuarakan protesnya.
"Tadi ada orang yang memberikan alamat kalian kepadaku begitu saja. Tapi aku tidak tahu siapa dia."
"Yyaaa!!! Han Jee Hoo!!!!"
Jee Hoo segera berbalik ke belakang, menghadap dua yeoja yang kini menatapnya dengan tatapan marah dan bingung. "Mianhae ..."
Eun Bie dan Na Bie segera menarik tangan Jee Hoo kanan dan kirinya bersamaan, menuju ruang santai mereka, dan memeluknya bersamaan.
"Bogoshipeo uri girrafe..." ucap kedua yeoja itu bersamaan. Jee Hoo yang tadinya bingung dengan apa yang akan dilakukan dua sahabatnya ini sekarang menghembuskan nafasnya lega, karena tadinya ia sangat takut, kalau mereka akan mengusirnya kalau sampai datang bertamu malam-malam.
"Mianhae bibi.." sesal Jee Hoo dalam. Hari ini semuanya tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Shinhye tidak ada, acara lunch di tepi pantai bersama sahabatnya gagal. Ditambah lagi ia harus melakukan fanmet dadakan. Dan malam ini, ia ingin makan malam bersama sahabatnya. Menetralisir kegundahan hatinya yang selalu membuat kepalanya serasa mau pecah setiap saatnya.
"Ayo, ceritakan dulu, kita mulai dari kenapa tiba-tiba kau datang tanpa pemberitahuan siang tadi." Pinta Eun Bie langsung. Na Bie menyodorkan satu gelas air putih pada Jee Hoo sebelum Jee Hoo membuka mulutnya, memjawab pertanyaan kakaknya yang ia sendiri juga sangat penasaran. Untuk apa Jee Hoo datang ke muka umum tanpa memberi tahu mereka sebelumnya. Jee Hoo paling benci harus bersusah payah, apalagi harus fanmet dadakan seperti tadi. Walaupun mereka tidak melihat, tapi semuanya pasti seperti yang difikirkannya.
"Gomawo Na Bie ah..."
"Sudah, cepat jawab!" Potong Eun Bie cepat. Na Mie menyenggol bahu kakaknya pelan dan melebarkan mata sipitnya. Tapi rupanya kakaknya ini tak menghiraukan instruksinya, malah terus menatap namja yang memasang wajah polosnya.
"Dua hari lalu, managerku bilang, kalau hari ini ada acara besar di kampus kalian. Dan banyak pembalap yang hadir, karena aku sangat tertarik, aku datang..."
"Kenapa tidak memberi tahu kami terlebih dahulu? " tanya Na Bie lembut. Sementara Eun Bie masih kekeuh dengan tampang dinginnya. Bahkan waktu ia berteriak dan memeluk sahabat kecilnya ini, ada rasa tak tenang dari hatinya.
"Aku ingin memberikan surprise pada kalian..."
"Lalu? Kenapa tidak ikut lari bersama kami tadi? Bukankah kamu sangat benci dengan semua hal yang serba dadakan? " tanya Eun Bie keras.
Duukkk!!!!!
Eun Bie dan Na Bie terjatuh begitu saja setelah batangan kayu menghantam punggung mereka. Seorang namja putih yang berdiri di belakangnya hanya tersenyum kecut menatap dua yeoja yang kini tak berdaya, dan seorang namja yang hanya tertunduk lemas, melihat temannya tak berdaya.
"Bagus Jee Hoo ssi.. tidak sia-sia aku membayar mahal managermu untuk ini. Jangan menyesal, Aku, Lee Jonghyun, bisa melakukan apapun yang bisa membuat karirmu semakin naik. Kau ingat itu? " ucap namja yang tak lain adalah Jonghyun itu dengan ekspresi dinginnya.
"Cepat bawa mereka, sebelum yang lain datang. Ingat, jangan sebut namaku di depan Soohyun hyung jika ia bertanya. Arra.."
"Ne.." jawab Jee Hoo lemah.
---oOo---
Lirih suara binatang malam memecah kesunyian. Angin yang berhembus sedikit kencang, membuat daun daun yang terjatuh semakin banyak. Tampak di langit sana bulan yang berbentuk sabit melengkung indah, tepat ke arah satu bintang tak jauh darinya. Seperti sebuah perlindungan tak kasat mata yang membuat hati bergetar hebat, jika saat ini mereka sendirian. Terkadang bunyi klakson mobil yang terdengar keras membuat dua orang yang sedang duduk di bawah pohon di pinggir jalan menengok bersamaan dalam diam. Lagi-lagi kesunyian yang tercipta, saat mereka hanya berdua seperti ini.
"Ahhkk..." rintih Shinhye pelan saat ranting pohon yang terjatuh mengenai kepalanya.
"Gwaenchanayo? " tanya Yonghwa cemas sambil memegang kepala dan tangan yeoja kecilnya.
"Eoh, gwaenchana.." jawab Shinhye pelan. Entah apa yang membuatnya tidak bisa berpaling saat ini. Tangan Yonghwa memegang tangan dan kepalanya. Itu hal yang tidak pernah di lakukan Jonghyun selama ini. Karena memang ia tak suka. Tapi entah kenapa saat ini lidahnya kelu, tak mampu menolak, melarang atau bahkan mengalihkan matanya dari dua mata elang yang menatapnya intens.
Shinhye pov
Ya Tuhan..
Apa yang terjadi padaku? Jonghyun oppa pasti tidak suka jika melihatnya. Tapi kenapa aku tak bisa menolaknya?
"Ah.. mianhae..." ujar Yonghwa oppa setelah sadar dengan tindakannya. Aku hanya mampu mengangguk dan kembali menatap jalanan di depanku.
"Kenapa Jonghyun tiba-tiba pulang? Bukankah ia tadinya bilang ingin makan bersama..?" Tanya Yonghwa Oppa. Aku bingung harus menjawab apa. Karena aku sendiri tidak tahu kenapa. Jonghyun oppa sudah berubah sekarang. Sekarang Jonghyun oppa penuh dengan misteri. Terkadang aku takut dengan tatapannya yang tiba-tiba menggelap. Bahkan sekarang ia sering melamun saat bersamaku.
"Hye..." panggil Yonghwa oppa mengagetkanku.
"Ne..ne.. Oppa..."
Aku bingung. Aku harus menjawab apa?
"Kau juga tidak tahu? "
Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Yonghwa Oppa. Sungguh. Aku bingung. Bagaimana kalau Yonghwa oppa tahu kalau hubunganku belakangan ini tidak baik dengan Jonghyun oppa. Bagaimana kalau nanti Yonghwa Oppa marah? Bagaimana kalau sampai mereka bertengkar? Bagaimana kalau nanti Jonghyun Oppa benar benar menikahiku minggu depan. Aku belum siap. Apa yang harus aku lakukan? Eomma dan Appa pasti menentang keras. Lalu?
"Shinhye ah.. Saranghae..."
Mwo?
Apa yang aku dengar barusan? Aku tidak salah dengar bukan? Sa-rang-hae? Yonghwa oppa?
Shinhye pov end
Yonghwa berdiri dengan mantap, mengambil satu kotak berwarna merah dari dalam saku celananya laku berlutut di depan Shinhye yang hanya terdiam dengan ekspresi kagetnya.
"Will you marry me? "
---oOo---
Awan gelap mulai datang berarak-arakan dari sisi timur, membawa semua pasukannya untuk segera menjalankan tugas yang bagi sebagian orang akan menghambat aktivitas mereka. Tapi tugas tetap tugas, dan semua yang terjadi telah tertulis jelas oleh-Nya.
Dalam hitungan detik ke 10 setelahnya, kini semua orang tengah berlari beraturan menuju tempat terdekat mereka. Payung-payung yang tadinya tersimpan rapi di pojok toko segera habis dalam sekejap, bahkan banyak diantara mereka rela membayar mahal para ojek payung yang dengan cepatnya berkeliaran mencari pelanggan.
"Noona, ayo aku antar.." ujar seorang anak laki-laki berumur 15 tahun yang hanya mengenakan sepatu bot kebesaran dan jaket tipis untuk menutupi tubuhnya. Mata jernih yang kini sedang menatap wajah datar seorang yeoja yang seluruh bajunya sudah basah kuyup dengan sedikit khawatir, bibirnya sedikit memucat walau masih tersemat seulas senyum kecil dari sana. Matanya sedikit sembab, ditambah lagi dengan tubuhnya yang sedikit menggigil.
"Pakailah ini, aku suka hujan. Sudah lama aku tidak seperti ini, terima kasih ne..." kata yeoja yang tak lain adalah Shinhye setelah melepas mantel yang dipakainya dan menyodorkannya pada anak laki-laki di depannya yang masih menatapnya bingung. Shinhye tersenyum lembut saat satu menit berlalu dengan keheningan diantara mereka. Mungkin anak itu bingung harus bagaimana, menerimanya karena ia memang membutuhkannya atau menolaknya karena yeoja ini juga membutuhkannya sekarang. Tidak mungkin ia lancang menerima mantel itu begitu saja dan membiarkan orang lain kedinginan. Tanpa diduga, anak itu tiba-tiba berbalik, berniat meninggalkan yeoja yang pasti baik ini. Namun baru satu langkah kakinya berjalan, sebuah tangan menahannya cepat. Anak laki-laki itu terperangah ketika berbalik dan menemukan kini yeoja itu malah melepas syal dan segera memakaikan kedua benda itu ke tubuh anak laki-laki yang malah terdiam karena ulahnya.
"Lain kali pakailah ini sebelum kau keluar, kasihan tubuhmu. Nanti kau bisa sakit. Gomawo ne.." ucap Shinhye senang dan segera beranjak dari tempatnya sebelum anak itu mengembalikan barang-barangnya.
---oOo---
Shinhye mengedarkan seluruh pandangannya ke seberang jalan saat sayup-sayup terdengar suara seseorang yang memanggilnya. Pandangannya yang sedikit kabur karena air hujan yang masih saja turun dengan derasnya sejak satu jam yang lalu membuat sedikit fokusnya berkurang. Bagaimana tidak? Sejak satu jam yang lalu ia berjalan menerobos derasnya hujan tanpa payung, jas hujan atau apapun. Bahkan satu-satunya mantel yang saat itu dibawanya telah diberikannya begitu saja pada anak laki-laki tadi. Sekilas anak itu mengingatkan akan masa lalunya, masa kecilnya saat bersama seorang namja yang kini sudah tumbuh dewasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Namja yang tiba-tiba hilang dari hidupnya, menyelinap diam untuk mencuri setiap celah yang di tutupnya. Dan tanpa disadarinya selalu hadir melalui sosok idola yang dibanggakan banyak orang.
Mata tajam nan jernih dari anak itu begitu mirip dengan milik seseorang itu. Bahkan cara anak itu berbicara dan ekspresi khawatirnya, semuanya sama. Atau itu semua hanya imajinasi kosongnya karena terlalu memikirkan orang itu? Orang yang datang tanpa disadari dan tiba-tiba menyatakan cinta padanya. Oh bukan, bukan hanya menyatakan cinta. Tapi namja itu juga melamarnya! Itu gila bukan. Padahal diketahuinya juga kalau ia sudah bertungan dan sebentar lagi akan menikah. Walaupun sebenarnya ia belum menyetujui keputusan itu. Tapi bisa apa dia? Ada beberapa kondisi yang memaksanya harus menerima itu semua. Dengan ataupun tanpa persetujuannya.
"Yyaa!! Park Shinhye!!" Ujar seorang namja yang baru saja berdiri di depannya dengan sebuah payung dan tongkat penyangga di tangan kanannya. Kilatan ketidakmengertian dari matanya membuat ekspresinya terlihat dingin dan menakutkan. Setiap orang yang tak mengenalnya pasti menganggap mereka sepasang kekasih yang sedang bertengkar di hari menjelang pernikahan mereka. Masalah mental, itulah yang sering dikatakan orang.
"Yeoja bodoh!!" Umpatnya kesal karena hingga kini Shinhye masih saja menatap kosong ke arah jalanan yang berisi genangan air hujan dan beberapa mobil yang terkadang melintas. Dan entah dari mana keberanian itu datang, kini namja itu sukses mendaratkan bibirnya di atas bibir Shinhye, membuat si empunya tersadar dan membelalakkan matanya tanpa bergerak sedikitpun. Fikirannya benar-benar menyuruh tangannya segera mendorong namja ini ke belakang, tapi seluruh hatinya menyetujui tindakan tanpa ijin dari namja yang tak lain dan tak bukan adalah Yonghwa, Jung Yonghwa, pembalap yang mengalami kecelakaan dan membuat kakinya lumpuh selama 3 tahun, namja yang entah bagaimana ceritanya bisa dekat dengan tunangannya, perlahan tapi pasti membukakan mata hatinya akan perasaannya yang sesungguhnya. Namja yang entah kenapa bisa menyatakan perasaannya dan melamarnya dalam waktu yang bersamaan. Namja yang dengan segala tingkahnya membuatnya seperti orang bodoh yang hanya diam saat dirinya dicium di tepi jalan saat hujan deras masih terus membasahi bumi.
"Ah.. Itu.. I..Itu..A..Aku.. Aku hanya... hanya.."
"Aku mau pulang.." potong Shinhye cepat saat melihat Yonghwa bingung harus menjelaskan apa. Ia tahu pasti, bagaimana Yonghwa.
"Ah.. Changkam..man .." kata Yonghwa gugup saat Shinhye mulai berjalan setelah menganggukkan kepalanya kecil. Yonghwa kembali dihinggapi rasa cemas saat yeoja di depannya ini hanya menatapnya datar, mungkin menyembunyikan rasa marahnya. 'Arghh!! Yonghwa paboo! Pasti dia marah, kau kira kamu siapa? Yeoja manapun akan marah kalau seorang namja tiba-tiba menciumnya. Dan juga, ini di tempat umum! kau gila!' Rutuknya dalam hati. Sungguh, kali ini hatinya cemas akan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Bagaimana kalau Shinhye marah dan tidak mau bertemu lagi dengannya?
"A..aku akan mengantarmu." Ucap Yonghwa lirih. Semua rasa takut yang menghinggapinya begitu besar, hingga kini kepalanya tertunduk dalam, tak mampu menatap yeoja di depannya ini yang tanpa disadarinya tersenyum kecil.
"Oppa mau mengantarku kapan? Sampai hujannya reda? " tanya Shinhye akhirnya, ia ingin menghilangkan sedikit kecanggungan yang tercipta. Karena ia sendiri pasti akan terus gugup juga kalau terus membahas 'kecelakaan' kecil barusan.
"Oh.. Itu.. Sekarang. Ya, sekarang, kajja.." jawab Yonghwa sambil mendekatkan jarak mereka dan berbagi payungnya. Walaupun sudah terlambat, tapi setidaknya di jarak 150 meter ke depan mereka tidak semakin basah.
---oOo---
Soohyun dan Jonghyun terdiam di depan Eun Bie dan Na Bie yang masih belum sadarkan diri ditemani Jee Hoo di samping mereka. Tatapan keduanya sulit dibaca, mereka terlalu tenang untuk menghadapi semua ini. Jee Hoo yang sedari tadi berfikir bagaimana caranya agar bisa kabur dari tempat ini segera menciut nyalinya, karena semua yang terjadi di luar perkiraannya. Ia pikir akan mudah membawa kedua sahabatnya keluar dari sini, tapi ternyata salah besar. Tidak ada satupun jalan keluar yang sudah direncanakannya bisa berhasil. Apa yang harus dilakukannya? Haruskah ia menghubungi polisi menggunakan ponsel daruratnya?
"Jangan pernah berfikir kau bisa kabur dari sini, bocah kecil!!" Ujar Soohyun dingin tanpa merubah posisi dan ekspresinya sedikitpun. Jee Hoo hanya diam, tak bermaksud menjawab atau menanggapi apapun tentang pertanyaan atau pernyataan yang diberikan untuknya. Diam adalah satu-satunya jalan untuknya agar menghambat tindakan gila dari dua orang psikopat di depannya.
"Tidurlah, mungkin besok mereka baru bangun. Tidak ada gunanya juga kau mengawasi kami. Kami tidak akan melakukan tindakan apapun untuk kalian bertiga sebelum kalian menjawab pertanyaan yang sudah kami siapkan." Imbuh Jonghyun pelan sembari memasangkan earphone di telinganya dan menutup matanya rapat. Soohyun hanya tersenyum sinis saat Jonghyun memilih tidur dari pada membuat namja ingusan di depan mereka ketakutan. "Tidurlah.. Besok akan melelahkan."
Tok tok tok...
"Permisi Tuan, saya ingin menyerahkan sesuatu untuk Tuan Jonghyun." Kata salah seorang pesuruh Soohyun yang datang dan membawa sebuah amplop coklat tipis.
"Apa? " tanya Jonghyun acuh tanpa membuka matanya sedikitpun. Jee Hoo menghendikkan bahunya ngeri melihat tingkah Jonghyun yang diam namun membahayakan. Beda dengan Soohyun, namja itu akan merubah ekspresinya sedetik sebelum ia memutuskan sesuatu.
"Woow!! Ini pemandangan yang sangat romantis!" Pekik Soohyun senang ketika sebuah amplop yang direbutnya terbuka paksa dan memperlihatkan sebuah gambar seorang namja dan yeoja yang tengah berbagi ciuman di bawah hujan deras. Jonghyun membelalakkan matanya ketika mengenali wajah samar dari dua orang yang tengah menjadi pusat perhatian saat ini.
"Hahaaa... Ayolah Lee Jonghyun.. Ini sesuai dengan prediksi kita. Kau hanya harus menyelesaikannya dengan sekali tindakan.."
Jonghyun hanya diam dan memilih meremas kuat kedua tangannya tanpa menunjukkan ekspresi kekecewaan yang kini menghujam hatinya. "Besok semuanya akan selesai.."
--- To Be Continue ---
Jangan lupa komentarnya ya teman-teman :)

Ceritanya makin seruu....ga sabar sma lnjutannya... soohyun makin jahat..dn aku g nyangka jonghyun jg ikutn trpengaruh sma dy..
ReplyDeletedtnggu bgt next part nya ..
ah iyaa bener, apaa bener jonghyun juga ikutan terpengaruh sama soohyun. atau sii jonghyun ....... ah molla. aku tunggu cerita selanjutnya aja deh. seruuuuuu .
ReplyDeleteSedikit kecewa sma jonghyun oppa di part ini, apa jonghyun oppa terpengaruh sama soohyun ?? Atau jonghyun oppa mempunyai rencananya sendiri ?? Ah! Nan mollayo
ReplyDeleteNext part.a di tunggu :)
Apa jong hyun mempunyai rencana lain Ataukah?...ahhh pusing pala ayong
ReplyDeleteKiss di tengah hujan...romantis
Makin seru.. langsung cuss ke next part
ReplyDeleteMakin seru.. langsung cuss ke next part
ReplyDelete